Rindu Ibu di Bawah Rembulan
Langit malam itu terasa begitu luas, tapi juga begitu sepi. Di balik jendela kamar kost kecilku di lantai dua, aku termenung. Lampu jalan berpendar temaram, dan rembulan menggantung tenang di langit kota.
Ini malam ke-132 sejak aku meninggalkan rumah.
Dulu waktu kecil, aku nggak pernah bisa tidur nyenyak kalau bukan di kamar sendiri. Bahkan menginap di rumah nenek pun sering bikin aku menangis diam-diam, merengek minta pulang. Tapi kini, aku sedang tinggal jauh dari rumah, di kota besar, demi kuliah yang sudah lama aku impikan.
Katanya, ini bagian dari dewasa.
Tapi ternyata, jadi dewasa tak semudah yang kuduga.
---
Awal tinggal di kota, semuanya terasa baru dan menyenangkan. Teman-teman baru, tempat makan yang seru, dan bebas pulang malam. Tapi cepat atau lambat, kebebasan itu menyisakan kesepian.
Bangun pagi tanpa suara ibu.
Makan siang dengan nasi bungkus seadanya.
Malam tanpa ada yang bertanya, "Kamu udah makan belum?"
Ibu sering menelepon. Tapi aku jarang menjawab. Bukan karena tidak ingin bicara, tapi karena takut suaranya akan membuatku lemah. Aku takut air mata ini jatuh di tengah tugas-tugas yang menumpuk dan deadline yang tak kenal ampun.
---
Suatu malam, aku jatuh sakit. Demam tinggi dan tubuh menggigil sendirian di kamar sempit. Teman kost yang lain sedang pulang kampung. Tidak ada siapa-siapa. Aku menangis. Bukan karena sakit, tapi karena rindu.
"Bu… aku ingin pulang," lirihku sambil menatap langit.
Rembulan di luar jendela terasa begitu dekat, seakan sedang mendengar bisikanku.
Esok paginya, aku memberanikan diri menelepon ibu.
Suaranya masih sama. Hangat. Tenang. Dan penuh kasih.
“Aku kangen, Bu…”
Ibu tak berkata apa-apa. Tapi dari ujung telepon, aku tahu ia sedang tersenyum sambil menahan air mata.
---
Sejak saat itu, aku mulai merawat diri lebih baik. Makan teratur. Minum vitamin. Dan belajar memasak meski hanya telur dadar. Kadang aku mengirim foto makanan buatanku ke ibu. Balasannya selalu sederhana: “Hebat anak ibu…”
Aku tahu, perjalanan ini masih panjang. Tapi rindu yang dulu aku benci, kini jadi pengingat tentang cinta yang tak pernah putus. Cinta seorang ibu, yang bahkan dari jauh, tetap melindungi dalam diam.
---
Malam ini, aku kembali duduk di bawah cahaya rembulan. Tapi tidak lagi dengan hati sepi.
Karena aku tahu, di tempat yang jauh, ada seseorang yang selalu menyebut namaku dalam doanya.
---
> Rindu itu bukan kelemahan, tapi bukti bahwa kita pernah dicintai begitu dalam.