Kamis, 27 Juli 2017

Api Unggun



Seorang anak, yang tinggal dipelosok desa. Hidup berdua dengan ibunya disebuah rumah berdinding bambu dan beratap daun yang sudah tua. Bahkan ketika langit menurunkan hujan. Terdapat bocoran atap yang terdapat disetiap sisi, mereka terpaksa tidur disudut rumah dalam keadaan yang begitu dingin dan penuh air. Mereka tak menyerah begitu saja, ada saja hal yang dilakukan ibu terhadap anaknya dalam melindungi putrinya yang kedinginan.
            Jauh dari saudara bahkan tak ada satupun saudaranya yang membantu hidup mereka. Mereka terus menjalani hidup seadanya. Hari-hari mereka hanya memunguti kayu bakar di hutan dan sayur kangkung di sawah untuk dijual dengan harga yang cukup untuk makan sehari sekali untuk berdua. Ibunya membawa keliling kedesa dan membawa kesestiap rumah. Memasuki gang-gang kecil untuk menuju rumah-rumah pembeli. Begitulah setiap hari yang ia lakukan. Dan tak pernah terlihat keluh kesahnya. Ia pantang menyerah, hanya untuk mendapatkan bekal makan sehari-hari saja.
 Mereka menanam beberapa batang ubi kayu untuk makanan sehari-hari mereka. Jika kangkung yang dijual tidak laku atau hanya separuh saja yang terjual, ibunya terpaksa mengambil depotong ubi didalam tanah yang masih utuh dan segar. Yang menjadi pengganti nasi untuk makan mereka. Dengan setumpuk kelapa parut yang bercampur sedikit garam dan gula, bahkan terkadang tidak ada gula dan garam, mereka menyantapnya dengan penuh syukur bersama ubi tersebut. Enak, memang terasa enak sekali di mulut mereka. Sementara anak itu tak pernah bersedih apa yang ia rasakan, ia selalu memberikan senyumnya kepada ibu, dengan umur yang masih tergolong kanak-kanak, ia tak mudah menangis dengan kondisi yang ia rasakan. Ia tetap bahagia selama matahari masih terlihat di dunia, ia bisa memberikan kebahagiaan dan senyum yang indah kepada ibu dan orang sekitarnya. Namun sayang, ia tak punya teman disekelilingnya, karena meraka hidup dan tinggal jauh dari rumah-rumah orang lain, tak jauh tak dekat dengan hutan. Ketika rembulan tak keluar dimalam hari, ibunya selalu menyalakan sebuah api unggun kecil, mereka duduk ditepi api berdua dan merasakan kehangatan yang begitu dalam. Seperti matahari yang selalu memberikan penerang jalan di siang hari dan menyengat dikulit.
Ada tawa dan cerita yang mereka ciptakan, meskipun hidup serba kekurangan, tetapi mereka mampu menciptakan hidup yang indah berdua bersama nikmat yang telah diberikan Tuhan. Selama mereka bisa makan dan tidak kelaparan, mereka tak lupa bersyukur.
Dia anak yang baik, lincah dan pintar meskipun ia tidak pernah bersekolah, tetapi ada ibu yang smenjadikan ia terlihat pintar. Matanya yang kecil dan bibir yang mungil, selalu terlukis senyum yang indah setiap hari, seperti ibunya. Rambut yang panjang terurai cantik dan lurus, semua karena urusan ibunya yang setia membuat anaknya secantik mungkin seperti anak-anak lainnya.  Anak itu begitu sayang kepada ibunya, sehingga ia selalu berada dalam pelukan ibunya, ia bersyukur masih ada ibunya yang menjadikan ia sebagai penerang didalam hidupnya. Menerangin segala kegelapan yang ada pada hidup mereka dan segala kegelapan menjadi terang menerang kita ibu dan anak saling melengkapi satu sama lain.
Mereka tetap bisa bertahan hidup meski harus berpuasa ketika tak ada bekal makanan yang harus mereka makan berdua. Lalu mereka tak pernah hidup dalam kemewahan, bahkan untuk sekedar menikmati malam dengan sebuah bola lampu listrik saja tak pernah mereka rasakan. Hebatnya mereka mampu berdiri dalam kekurangan tersebut.
 Mereka tak mau menjadi pengemis seperti orang lain, karena mereka merasa sanggup dengan tenaga yang di beri Tuhan. Kalau saja Tuhan tidak memberikan tenaga pada hambanya, pasti saja mereka sudah tiada, lalu untuk apa Tuhan memberika kekuatan? Itulah sebabnya mereka merasa bahwa Tuhan yang memberikan kekuatan itu untuk mencari kebahagian semata dan dengan segala yang bisa kita lakukan. Semua yang kita lakukan karena Tuhan yang telah memberikan tenaga yang kuat, bukan untuk mengeluh jika memiliki kekurangan, justru untuk menutupi segala kekurangan dengan kekuatan yang diberikan Tuhan. Itulah prinsip seorang Ibu dalam hidupnya, mengajari anaknya agar bisa menggunakan tenaga sebisa mungkin. Ialah ibu yang baik, yang telah di utuskan Tuhan untuk menjaga dan melindungi anaknya.
Setiap hari, anak itu melihat teman-teman sebayanya bermain dengan bahagia apa yang diberikan orangtuanya. Mereka bisa menggunakan alat-alat elektronik pemberian ibunya, sementara Putri tak pernah merasa iri atas apa yang ia lihat. Ia juga bisa bahagia setiap hari, bermain dengan monyet kesayangannya yang jadi pelindung, dan bernyanyi disela-sela hutan yang luas dan adem itu. ia bahkan merasa bahwa ia lebih bahagia bisa menikmati hidup yang berbeda dari anak-anak lain. Bermian dengan alam bukanlah hal yang tak ia sukai, justru itulah yang bisa membuat hari-hari semakin cerah dan cemerlang.
Ketika pagi telah tiba, matahari telah terbit, dan suara kokok ayam sudah terdengar ditelinga ibunya, ia selalu membangunkan Putri anaknya dari buaian mimpi indah itu. Bergegas menyiapkan alat-alat untuk memetik sayur, Putri terkadang juga membantu sebelum ibunya pergi membawa ke pasar dan kerumah orang-orang untuk menawarkan dagangannya. Meskipun banyak orang yang mengabaikannya, tak memerlukan sayur ibunya, tetapi ada satu atau dua orang yang berhati baik dan penuh iba langsung membelinya.
“berapa ini satu ikat bu?” Tanya seorang pelanggan yang baik hati dan suka menolong orang yang membutukan itu, dengan nada yang lemah lembut dan bersahabat ibu Putri langsung menjawab dengan nada yang lembut juga.
“seribu rupiah mbak, silahkan diambil mau yang mana?” dengan tawaran yang penuh harap agar dagangannya diambil dan tak ditinggalkan begitu saja.
Terkadang banyak mereka yang tak jadi mengambil dagangan ibu Putri, padahal harganya begitu murah bagi orang-orang yang hidupnya sempurna bahkan yang pas-pasan. Tetapi entah kenapa, ada saja yang tak jadi mengambilnya, seperti diacukan. Tetapi ini adalah sebuah ujian, ujian yang harus ibu Putri lalui agar ia bisa memberikan kebahagaian untuk anaknya yang sangat ia cintai itu. ia tak pernah kelelahan berjalan mengelilingi desa menuju kedesa lain, bahkan satu kecamatan ia lewati. Sungguh luar biasa ibunya yang hanya untuk kebahagiaan anaknya.
Suatu hari, langit sangat menggelap, matahari tertidurdan tak keluar sedikitpun, terdengar sebuah ledakan kecil dari langit dengan suara gemuruh, sebuah kilat dan petir yang datang bergantian. Putri sangat takut dan ia segera pulang kerumah sebelum hujan datang. Ketika ia tiba dirumah, langit terus mengeluarkan air dan menjatuhkan kebumi sehingga membasahi semua rumput yang kering itu. sudah lama air itu disimpan oleh awan setelah beberapa bulan kemarau panjang.
Hujan terus mengalir dari atas dengan sangat deras, sehingga membuat Putri takut, atap rumah mulai semakin terkoyak oleh sapaan angin beserta hujan. Ia tetap kuat seperti yang ibunya pesankan ketika apapun terjadi. Ia terus merasa sangat kedinginan, mencari sebuah selimut tebal yang sudah koyak dimakan binatang-binatang kecil. Putri mencoba membalut tubuhnya dengan erat, semua ia lakukan sendiri. Berdiri di didekat pintu yang tak terkena tetesan hujan. Ia terus menatap kelang-langit rumah, melihat setiap tetesan hujan yang ia lihat, menghitung tiap tetesan yang jatuh, semakin derasnya langit menangis semakin banyaknya tetsan hujan yang jatuh. Ia hanya tersenyum dengan nyanyian yang ia saksikan bersama tetesan hujan itu. ia tak terlihat sedih, hanya saja ia sangat kedinginan.
Hari sudah mulai menggelap sedikit demi sedikit, Putri masih mengikuti nyanyian tetesan hujan, ia menanti ibunya yang tak kunjung pulang. Perasaannya menjadi tak enak, ada gelisah dan bimbang, ingin keluar tetapi hujan terus melanda bumi. Petir dan kilat tak mau mengalah berkelahi, membuat ia semakin takut untuk melangkah keluar dari rumahnya.
“kenapa ibu belum pulang ?, padahal ini sudah mau menjelang malam”
Ia terus bertanya-tanya pada hatinya agar hatinya menjawab pertanyaannya. Tak ada yang bisa ia jawab dari pertanyaan Putri. Sehingga tumbuhlah sebuah tekat dan keberanian Putri untuk mencari ibunya keluar. Ia terus berjalan langkah demi langkah bersama nyanyian tetesan hujan. Meskipun langit sangat menggelap, ia tetap mampu berjalan. Berjalan bersama cahaya kilat dan petir yang sekali-kali menghampiri bumi.
Hujan terus membasahi tubuh Putri yang mungil itu, Putri tetap tersenyum meski keadaan yang begitu dingin. Bahkan sekalipun ia tak pernah menyalahkan hujan dan petir yang telah membuat ia basah dan takut. Ia terus berjalan mengkuti jejak ibunya pagi tadi melewati jalan yang sempit dan penuh air yang mengalir. Membuat kaki Putri menjadi penuh dengan lumur dan kotor. Ia hanya memakai sandal jepit yang sudah tua dan mulai menipis. Bahagia, ia terus melangkah dengan kebahagian tanpa menyadari keadaanya seperti apa, senang rasanya bisa menikmati dan bermain bersama hujan yang terus menyapa tubuhnya.
Banyak rintangan yang ia lalui ketika mencari ibunya, Putri harus melewati sebuah jembatan kayu kecil dan ia harus menyesuiakan diri agar bisa selamat melintasi jembatan kecil itu. ia harus melintasi bukit-bukit kecil. Semua ia lalui dengan hati senang. Terus bernyanyi sepanjang jalan bersama hujan itu, sehingga ia tak kesepian.
Di pertengahan jalan, Putri melihat sesuatu di tengah jalan yang sedang terbaring ikhlas. Ia semakin penasaran, dengan cepat ia melangkah menuju ke sesuatu yang ia lihat itu. ia semakin penasaran dengan yang ia lihat dengan matanya sendiri. Hingga akhirnya ia tiba ketempat itu. tenyata ia mengenal seseorang itu. itulah adalah ibunya. Dengan wajah yang indah dan tersenyum ibunya tertidur, “apakah benar ia tertidur?”. Tanya Putri dalam hati nya, ia seolah tak percaya itu ibunya. Sementara itu benar ibunya. Ia terus membolak-balik ibunya apa yang terjadi pada ibu. Ia semakin tak percaya kenapa ibu terlelap di atas jalan yang basah dan kotor itu. ia terus berteriak sekuat mungkin dengan nada yang begitu menyedihkan.
“ibuuuuuu, inikah ibu ?”
“ibu bangunnn !!!!”
“Putri disini bersama ibu”
Putri mulai menangis dengan begitu sesak. Ibunya tetap tak menjawab pertanyaan Putri. Putri terus memeluk ibunya, ia memeriksa apa ada luka atau mungkin ada yang membunuhnya. Ternyata ibunya dibunuh oleh petir tadi sore. Putri semakin kuat menangis bersama hujan yang semakin deras. Ia terus membawa ibu dengan sebauh dorongan kayu yang dibawa ibunya berjualan. Sekuat tenaga Putri membawa ibu ke rumah.
Malam semakin larut, hujan sudah mulai reda, langit mulai bercahay tak ada gelap lagi,t tapi tidak dengan Putri, ia semakin menangis tak ikhlas ibunya pergi tanpa pamit.
Keesokan harinya, Putri membawa ibu dan memanggil orang-orang untuk membawa kepemakaman. Untung saja masih ada yang peduli kali ini dalam pertolongan membawa ibunya ketempat istirahat terakhir. Wajah ibu terlihat ada senyuman yang ia berikan kepada Putri, agar putrid harus tetap tersenyum dimanapun dan apapun suasana yang terjadi.
Malam harinya, Putri hanya seorang diri, tak ada cahaya lagi dirumahnya, ia merindukan cahaya itu dari ibunya, ketika ibunya harus memasak ubi kayu untuk makan malam bersama. Putri sangat sedih, hidup seorang diri bukanlah hal untuk Putri tidak bangkit, justru ia semakin kuat seperti yang dikatakan ibunya dulu.
Profesi ibunya dulu digantikan oleh Putri, dimana Putri harus mencari kayu bakar dan mengambil kangkung sendiri dihutan dan sawah, untuk berjualan ke luar desa, hanya ada binatang-binatang kecil dihutan yang menemani hari-harinya.  Ia tetap terlihat kuat dan bersyukur atas apa yang masih sanggup ia lakukan. Tuhan maha baik dimata Putri, ia tetap bersyukur segala-galanya.
Terkadang dimalam hari, Putri selalu merindukan canda tawa bersama ibunya, ia rindu ketika menyaksikan api unggun kecil bersama ibunya. Dan ia membuat api unggun sendiri untuk melihat semua kenangan bersama ibunya. Api unggun yang cantik itu, ia melihat ibunya yang sedang menyala dan tersenyum, hingga di penghujung malam, ia tetap menyaksikan api unggun bersama dinginnya malam. Hingga api unngun padam.

Minggu, 23 Juli 2017

Kesabaran dalam Keikhlasan

Suasana subuh 26 Mei hari itu terasa berbeda. Langit tampak murung, seolah tak sanggup menahan kesedihannya. Rumput kehilangan semangatnya menyambut pagi. Matahari enggan bersinar, awan pun tampak kelabu. Bahkan langit mulai menghitam, seakan hendak menangis melihat duka dunia yang tengah berlangsung. Burung-burung kecil di atas awan menjadi saksi bisu, menatap dunia dengan diam.


Sebuah kabar mengguncang—begitu menyayat, seolah tak nyata. Dunia seperti tak ingin menerima takdir yang akhirnya benar-benar menjadi kenyataan. Sebuah kenyataan yang membawa duka terdalam bagiku.
“Ayahku, benarkah berita ini?” bisikku dalam hati. Dan seakan dijawab oleh suara yang tak terlihat, “Benar, wahai anakku. Ayah akan pergi. Jangan bersedih, Ayah akan melihatmu dari surga.”

Aku seperti bermimpi. HP-ku tiba-tiba berdering beberapa kali—tidak biasa terjadi sepagi itu. Kakakku mengangkat telepon dengan wajah berlinang air mata. Tangisnya menghantam keheningan kamar kami. Ia memegang tanganku, memelukku erat, dan membisikkan, “Ayah, Dik... sudah pergi.”

Aku terdiam. Aku berharap ini hanya mimpi. Tapi air mataku mulai jatuh, menandai bahwa mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan.
“Tuhan, begitu cepat Engkau mengambil Ayah dari sisi kami. Tak bisakah Kau menunggu hingga aku sukses?”


---

Dengan tergesa-gesa dan isak tangis yang masih menyesak di dada, aku bersiap pulang ke rumah yang berjarak sekitar 14 jam perjalanan. Kakakku segera mencari teman untuk menemani perjalanan, menyiapkan motor seadanya, tanpa persiapan apa pun. Aku hanya mengenakan jilbab kurung hitam, baju panjang merah, dan rok hitam—tanpa jaket.

Dua motor melaju menembus gelap subuh. Di satu jam pertama, kami singgah di mushalla kecil di pinggir jalan pegunungan. Kami mengambil wudhu dan menunaikan salat subuh. Setelah itu, aku kembali duduk di belakang kakakku, yang mengendarai motor dengan perlahan tapi pasti. Doa-doa lirih terus kupanjatkan.

Jalanan lengang, subuh masih pekat. Motor melintasi lubang kecil dan sedikit menghentak. Aku tersadar kembali—batin dan fisikku sama-sama terluka. Kami lupa sarapan, hanya sempat meneguk air mineral. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Panas matahari tak terasa—seolah rasa kehilangan ini menelan semua rasa.

Luar biasa. Entah bagaimana, kami tiba jauh lebih cepat dari waktu normal. Di depan rumah, kain merah terbentang, tenda telah berdiri, motor dan mobil memenuhi sisi jalan. Suasana hening meski ramai, seperti pesta tanpa musik dan tawa. Orang-orang menyambut kami dengan bisu. Kakiku tak sanggup melangkah turun dari motor. Saudara-saudara memapahku masuk.

Di dalam rumah, seorang lelaki yang begitu kukenal kini terbaring kaku di tempat pemandian jenazah. Wajahnya tenang, bahkan tersenyum. Seolah ia ingin memberi kode agar kami tetap tabah dan mengikhlaskan kepergiannya.

Bersama ibu dan saudara, aku menyaksikan prosesi pemandian. Kami kemudian membawanya ke sebuah masjid kecil, menshalatkannya, dan mengantarnya ke rumah terakhirnya. Tanah pemakaman menyambut kami dengan embun pagi yang masih tersisa. Rumput tumbuh subur, seolah turut menyambut Ayah.
“Ayah, semoga engkau bahagia bersama sahabat-sahabat baru di sisi-Nya.”

Setelah pemakaman, kami pulang berjalan kaki. Sandal jepit menjadi saksi bisu langkah-langkahku yang berat. Perutku kosong sejak pagi, jam dinding di rumah seakan memanggilku untuk beristirahat dan mengisi energi.


---

Setahun berlalu. Di suatu malam, aku termenung di sudut kamar kecilku. Foto-foto keluarga terpajang rapi di dinding. Wajah pahlawanku tak bisa lepas dari pelupuk mata. Sosok Ayah, dengan sifatnya yang hangat dan kuat, terus hidup dalam kenangan.

Setiap akhir ibadahku, tak pernah lupa kusematkan doa untuknya—agar Ayah tenang di sana. Aku berjanji akan menunaikan semua amanah dan pesan yang pernah ia titipkan, agar ia bahagia melihatku dari surga.

Rumah ini menyimpan banyak cerita. Tawa dan tangis, perjuangan dan harapan. Ayah sering hadir dalam mimpi-mimpiku. Dan meskipun aku telah mengikhlaskan, rinduku tetap dalam.
Dari keikhlasan inilah, aku belajar makna kesabaran yang sebenarnya.


---

"Relakanlah jiwa yang telah pergi,
tak ada yang lebih indah
daripada keikhlasan di dalam hati."


Sabtu, 22 Juli 2017

Aku, Gelar dan Takdirku



Ketika hari senin kembali datang tanpa diundang, Semua orang mulai sibuk dengan memulai kegiatannya masing-masing. Beribu mahasiswa yang tampak bersemangat yang hanya ingin mengejar gelar. Para karyawan-karyawati kantor-kantor besar dan kecil, tak kalah bersemangat menghadapi tugas-tugasnya yang hanya ingin mendapatkan hasil yang berasal dari jerih keringat mereka. Saat angin pagi yang begitu menggugah kesegaran, membuat mereka semakin bersemangat, tak surutnya perjuangan mereka yang rela duduk manis didepan komputer selama satu setengah hari. Begitu cepatnya berlalu masa liburan itu, sehingga mereka hanya bisa bermain dan menyaksikan sebuah surga indah dan buruknya suasana di perkantoran.
Begitu juga dengan mahasiswa, mereka terus menerus menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen-dosen yang begitu dramatis, humoris bahkan sekaligus paling menyeramkan. Mereka terus berupaya terlihat mampu mengahadapi dosen yang dianggap dosen killer oleh mereka.
Begitupun juga dengan Romi, mahasiswa PGSD semester akhir yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya di sebuah Universitas Swasta di sebuah kota Medan. Ia telah melalui semester-semesternya hingga tiba di semester akhir. Iapun tak kalah dengan tugas-tugas yang pernah diberikan para dosen-dosennya. Ia termasuk golongan mahasiswa yang rajin mengumpulkan tugasnya meskipun pernah telat menumpulkannya. Nilai-nilainya yang ia dapatkan hanya lah pas-pasan, tidak terlalu tinggi maupun tidak terlalu rendah. Sebuah keheranan yang tidak dipikirkannya. Ia tak pernah memikirkan yang terbaik, tetapi hanya memikirkan yang baik saja, baiknya adalah ia rajin mengumpulkan tugas dengan pekerjaan yang asal-asalan saja.
Setelah ia melewati masa-masa tugas akhirnya, yang terkadang sering terhambat oleh faKtor-faktor lainnya, seperti malas menyelesaikan tepat waktu. Tetapi akhirnya ia mampu meraih gelar sarjana pendidikan itu selama setahun atau dua semester. Entah apa yang dia inginkan, GELAR??? ILMU??. Entah lah itu, Yang terpenting baginya ialah ia telah menyelesaikannya.
Setahun kemudian ia menjadi seorang pengangguran, pengangguran yang disengaja. Alasannya hanya ingin menikmati masa-masa liburan saja. Karena ia termasuk golongan orang-orang berduit. Orang tuanya adalah seorang pembisnis, yang mempunyai beberapa cabang toko kue di kota-kota besar. Sehingga ia hanya bisa menikmati liburan dengan dana hasil bisnis orang tuanya.
 Ia juga punya  sebuah cita-cita yaitu menjadi seorang dosen. Karena ia merasa cukup dan kelebihan dalam ekonominya, ia segera mendaftar kuliah S2 disebuah Universitas yang ada dikota yang sama dengan S1nya dulu. Tak  segan-segan ia lantas  meminta biaya kepada orang tua, karena ia adalah satu-satunya anak laki-laki dari dua bersaudara, adiknya perempuan yang sedang menempuh pendidikan nya disalah satu Sekolah Menengah Atas yang ada di kota Medan. Tak jarang ia meminta kepada orangtuanya, karena ia berpikir bahawa semuanya miliknya juga ketika orangtuanya meninggal nanti. Berbeda dengan orang lain yang terkadang lebih memilih mencoba tes kuliah dari jalur beasiswa, tetapi itu sama sekali ia tak mau berpikir, ya karena ia memang hidup dalam keluarga yang serba mampu tapi tidak terlalu kaya.
Matahari siang itu telah berada di atas pundak, dengan cerahnya ia bersinar sehingga terkena perih sinarannya di kulit tangan, ia terus berjalan bersama langkah kaki Romi. Romi yang sibuk mengurus semua berkas kelengkapan perkuliahannya nanti. Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkannya. Ia singgahi sebuah restoran mewah. Mobil-mobil mewah tertata rapi diparkiran dan tak pernah kekosongan. Tak banyak sepeda motor menginjak parkir  itu, bahkan hanya satu atau dua buah motor orang-orang biasa. Sehingga mobil-mobil para milyader itulah yang telah memenuhi ruang-ruang parkiran.
Romi terus menyantap makan siangnya dengan lahap dengan sepiring nasi yang disertai lauk-lauk yang harganya sebanding dengan  3 kali makan orang biasa dalam sehari.  Beraneka ragam minuman yang ia pesan tertata diatas mejanya, Hingga ia berlama-lama disana. Ia terus menyelesaikan tugas makan siangnya dengan tenang dan aman, terkadang sering menoleh sebentar ke arah luar lewat jendela kaca yang ia duduki di lantai dua. Sesuap-sesuap nasi yang ia masukkan kedalam mulutnya terus dikunyah dan hingga kering piring yang ia buat. Setelahnya ia Meminum minuman manis yang ada didepannya, sambil menikmati udara siang itu diluar. Dengan manjanya angin terus menyapa sehingga membuat mata Romi berat untuk terbuka. Ia merasa mengantuk. Pergi lah ia kedalam sebuah kamar mandi, ia terus mencucikan mukanya. Setelah itu rasa kantuk telah hilang, ia memulai lagi pekerjaannya, yaitu menyelesaikan semua berkas perkuliahannya.
Beberapa minggu setelah proses penyerahan berkas. Jadwal kuliah pun telah keluar, artinya ia akan segera terjun ke dunia perkuliahan. Banyak yang ia lalui disana, dari sekedar kuliah dan meneliti, Bermain sambil kuliah dan lain-lainnya. Mengerjakan tugas-tugas dan menyerahkannya. Hingga prosess akhirnya telah ia selesaikan. Disana ia tak jauh berbeda juga dengan pendidikannya semasa S1. Sama-sama mendapatkan nilai yang pas-pasan. Iapun hanya mengenal beberapa teman saja. Sesungguhnya ia punya system kuliah yang sama seperti S1 dulu, ngejar gelar?  atau ngejar ilmu?. Yang terpenting baginya ialah telah mendapat gelar Romi Irawan, M.Pd.
Beberapa bulan setelah ia menjadi seorang Magister, ia mencoba mencari lowongan dosen pengajar di sebuah kampus negeri yang favourite. Disana ia mengenal seorang perempuan yang pernah ia kenali sewaktu S1 nya dulu. Namanya adalah Raisa. Ia sudah duluan menjadi dosen disana, karena ia memang perempuan yang mempunyai kelebihan skill dan ilmu.  Meskipun ia mengenalinya, ia tak terlalu akrab dan hanya sekedar mengenal namanya saja, ia tak tanggung-tanggung dan tak merasa malu untuk meminta bantuan kepadanya. Bantuan yang jauh lebih konyol seperti para polisi yang lewat dari jalur sogokan uang yang berlimpah. Ia terus mencari nya, tak jarang ia mendatangi kampus untuk menjumpainya. Tiba suatu saat kebetulan saja Raisa sedang berada perkarangan parkir pagi itu. ia baru saja tiba dikampus. Romi langsung menyapanya.
“Raisa, ini aku Romi. Masih kenalkan.
“oh kamu ya yang dulu pernah satu unit sama aku waktu semester 2?”
“ia sa,
“BTW, kamu ngapain aja disini?? Ada tugas ya ?”
“yah aku mau jumpai kamu, udah lama ga jumpa juga kan”
“ia sih lumayan lama”
Mereka terus berbincang selama beberapa menit, hingga akhirnya Romi menanyakan lowongan kerja.
“sa, aku mau nanya nih, boleh ?
“ia apa Rom?”
“BTW dikampus kamu ada lowongan kerja ga?”
“setau saya sementara ini ga ada rom, coba aja kamu cari diluar sana?”
“kok dicari diluar sih sa, kan ada kamu disini, kamu bisa bantu aku masukin sebentar”
“aduh rom, aku ga bisa lama-lama disini, lain kali kalau jumpa kita ngobrol lagi”
“baiklah sa”
Raisa langsung meninggalkan Romi diparkir, ada saja alasan yang Raisa buat, bukan untuk menghindari Romi, tetapi ia ngerti seperti apa Romi, bukan ia tak mau membantu, tapi ada saatnya yang tepat ia membantu orang tepat. Ia juga mengerti seperti apa dosen yang diminta oleh pihak kampus. Sementara Romi kewalahan dan merasa biasa saja di tolak oleh Raisa, ia langsung meninggalkan kampus itu, mencari tempat-tempat lain.
Seminggu, sebulan bahkan setahun ia juga jadi pengangguran. Meskipun ia masih merasa kecukupan, ia ingin kerja. Tetapi semua tempat menolaknya. Entah apa salahnya, diberkas nya tak ada satupun sertifikat-sertifikat bahkan ia tidak mempunyai bakat dan keahlian khusus. Ia juga termasuk mahasiswa yang biasa-biasa aja di S1 dulu, ia jarang aktif di grub dan kegiatan-kegiatanya yang ada di forum-forum yang ada di kampus, sehingga ia tak punya banyak teman dan kenalan. Seolah-olah dunia tak membutuhkannya.
Sekarang, ia sering larut dalam lamunannya, pagi sore malam ia terus berpikir, apa salah ku?. Ia terus mengingat perkataan Raisa saat jumpa dengan di parkiran kampusnya.
“coba aja kamu cari diluar sana?”
Ini sebuah kata yang misteri buat dia, sehingga ia berpikir ratusan kali bahkan lebih, ketika ia hanya menanyakan sesuatu, seenaknya saja Raisa berbicara seperti itu, inilah yang dipikirin Romi kenapa Raisa tega seperti itu. ia mulai mengingat apa yang ada pada Raisa, kenapa ia bisa mudah diterima menjadi Dosen Pengajar di kampus favorite itu.  ia terus mengingat hingga ia menemukan jawabannya.
Raisa anak yang tidak terlalu pintar juga, tetapi ia rajin belajar hingga ia bisa lulus S1 dengan nilai Cumloude. Ia sering aktif dikelas dan diluar kampus sehingga banyak orang yang mengenalinya. Ia juga punya bakat dalam seni tari dan drama meskipun ia bukan anak sastra. Ia juga akrab menyapa teman-teman dan dosen-dosen dikampus dan diluar, sehingga terlihat aroma keramahannya. Terus banyak lagi yang ada pada jati diri Raisa. Romi terus menerus mengambil pelajaran dan kesimpulan dari semua yang telah ia pikirkan. Bahwa kerja tidak butuh Gelar tapi Ilmu dan Skill.
Semua menjadi sadar, tetapi ia belum terlambat. Romi tetap menjadi pengangguran dan sekarang hanya menjadi bagian pekerja di sebuah toko milik orang tuanya, ia mulai belajar mengelola dengan baik, bagaimana harus bisa mengikat hati orang agar bisa dekat dengannya. Ia juga belajar memasak dan lain-lainya. Sehingga akhirnya ia punya keahlian dibidang memasak dan bukan menjadi seorang dosen pengajar dikampus-kampus.

“belajarlah sejak dini, latihlah keahlian, sesungguhnya takdir itu tak ada yang mengetahuinya”
@risnaerita