Tak tik tak tik... suara langkah kaki mahasiswa S1 menggema di pelataran kampus pagi itu. Jas almamater rapi, tas punggung menggantung di bahu, dan senyum-senyum optimis terpatri di wajah mereka. Hari baru dimulai, pelajaran menanti, dan semangat menimba ilmu masih menyala.
Namun, di antara barisan pejuang ilmu itu, Bella seperti bayangan yang jarang muncul. Namanya sering disebut, wajahnya dirindukan teman-teman, namun keberadaannya lebih banyak samar. Bukan karena ia tak mampu, tapi karena waktunya habis tenggelam dalam hobi yang ia anggap sebagai pelarian—drama Korea.
Setiap malam, Bella larut dalam dunia romansa fiksi, tertawa, menangis, dan hanyut dalam kisah yang tak nyata. Matanya bengkak bukan karena tugas, tapi karena menangisi adegan dramatis dari aktor favoritnya. “Besok aku bangun pagi,” katanya setiap malam, namun nyatanya… ia selalu terbangun ketika kelas sudah separuh jalan.
Pagi itu, Bella muncul tiba-tiba. “Assalamu’alaikum,” ucapnya dengan suara khas dari balik pintu. Seluruh kelas menoleh. Chintya, satu-satunya teman dekatnya, segera menyambut.
“Bella! Lama banget nggak kelihatan. Sakit ya?”
“Maaf ya, Chin. Aku... ya, ketiduran terus.”
Namun, Chintya tak puas. Ia tahu ada yang lebih dari sekadar ‘tidur’. Bella tak sedang lelah karena belajar, tapi larut dalam drama tanpa henti. Bahkan dosen seperti Miss Regina dan Mr. Ryan pun mulai mempertanyakan keberadaannya. Bella hanya tersenyum kecil, seolah semua itu tak sepenting satu episode terbaru dari serial kesayangannya.
---
Sampai akhirnya, panggilan itu datang. Bukan dari dosen mata kuliah, tapi dari dosen wali yang selalu lembut dan sabar. Di ruangan itu, Bella duduk dengan tangan memegang selembar daun, mencoba menyembunyikan kegugupan.
“Bella, kamu tahu berapa kali kamu absen?” suara lembut itu bertanya.
Bella tertunduk. “Maaf, Bu. Saya…”
“Orang tuamu… mereka bekerja keras di kebun kecil untuk membiayaimu. Mereka percaya kamu mencari ilmu, bukan larut dalam dunia maya yang tak nyata.”
Ucapan itu menusuk lebih dari sekadar teguran. Untuk pertama kalinya, Bella menangis bukan karena drama Korea, tapi karena kenyataan yang menyakitkan. Air matanya membasahi jilbabnya. Ia sadar: waktu yang selama ini ia habiskan tak akan pernah kembali.
---
Hari-hari berikutnya, perubahan mulai terasa. Bella mulai bangun pagi, mencatat pelajaran, bahkan bergabung dengan organisasi kampus bersama Chintya. Ia belajar menata waktu, menyusun jadwal, dan memegang buku lebih sering daripada smartphone. Hobinya masih ada, tapi tak lagi mengendalikan hidupnya.
Ia belajar bahwa waktu tak akan menunggu siapa pun. Ia memilih untuk berdamai dengan kenyataan dan mulai membayar perjuangan orang tuanya dengan kesungguhan.
Kini, Bella bukan hanya dikenal karena keunikannya, tapi juga karena ketekunannya. Ia membuktikan bahwa masa lalu tak harus menentukan masa depan.
Dan dari balik kisah ini, ada satu pelajaran yang tak terlupakan:
“Perlakukan waktu dengan baik, agar waktu memperlakukanmu dengan baik.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar