Sabtu, 22 Juli 2017

Aku, Gelar dan Takdirku



Ketika hari senin kembali datang tanpa diundang, Semua orang mulai sibuk dengan memulai kegiatannya masing-masing. Beribu mahasiswa yang tampak bersemangat yang hanya ingin mengejar gelar. Para karyawan-karyawati kantor-kantor besar dan kecil, tak kalah bersemangat menghadapi tugas-tugasnya yang hanya ingin mendapatkan hasil yang berasal dari jerih keringat mereka. Saat angin pagi yang begitu menggugah kesegaran, membuat mereka semakin bersemangat, tak surutnya perjuangan mereka yang rela duduk manis didepan komputer selama satu setengah hari. Begitu cepatnya berlalu masa liburan itu, sehingga mereka hanya bisa bermain dan menyaksikan sebuah surga indah dan buruknya suasana di perkantoran.
Begitu juga dengan mahasiswa, mereka terus menerus menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen-dosen yang begitu dramatis, humoris bahkan sekaligus paling menyeramkan. Mereka terus berupaya terlihat mampu mengahadapi dosen yang dianggap dosen killer oleh mereka.
Begitupun juga dengan Romi, mahasiswa PGSD semester akhir yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya di sebuah Universitas Swasta di sebuah kota Medan. Ia telah melalui semester-semesternya hingga tiba di semester akhir. Iapun tak kalah dengan tugas-tugas yang pernah diberikan para dosen-dosennya. Ia termasuk golongan mahasiswa yang rajin mengumpulkan tugasnya meskipun pernah telat menumpulkannya. Nilai-nilainya yang ia dapatkan hanya lah pas-pasan, tidak terlalu tinggi maupun tidak terlalu rendah. Sebuah keheranan yang tidak dipikirkannya. Ia tak pernah memikirkan yang terbaik, tetapi hanya memikirkan yang baik saja, baiknya adalah ia rajin mengumpulkan tugas dengan pekerjaan yang asal-asalan saja.
Setelah ia melewati masa-masa tugas akhirnya, yang terkadang sering terhambat oleh faKtor-faktor lainnya, seperti malas menyelesaikan tepat waktu. Tetapi akhirnya ia mampu meraih gelar sarjana pendidikan itu selama setahun atau dua semester. Entah apa yang dia inginkan, GELAR??? ILMU??. Entah lah itu, Yang terpenting baginya ialah ia telah menyelesaikannya.
Setahun kemudian ia menjadi seorang pengangguran, pengangguran yang disengaja. Alasannya hanya ingin menikmati masa-masa liburan saja. Karena ia termasuk golongan orang-orang berduit. Orang tuanya adalah seorang pembisnis, yang mempunyai beberapa cabang toko kue di kota-kota besar. Sehingga ia hanya bisa menikmati liburan dengan dana hasil bisnis orang tuanya.
 Ia juga punya  sebuah cita-cita yaitu menjadi seorang dosen. Karena ia merasa cukup dan kelebihan dalam ekonominya, ia segera mendaftar kuliah S2 disebuah Universitas yang ada dikota yang sama dengan S1nya dulu. Tak  segan-segan ia lantas  meminta biaya kepada orang tua, karena ia adalah satu-satunya anak laki-laki dari dua bersaudara, adiknya perempuan yang sedang menempuh pendidikan nya disalah satu Sekolah Menengah Atas yang ada di kota Medan. Tak jarang ia meminta kepada orangtuanya, karena ia berpikir bahawa semuanya miliknya juga ketika orangtuanya meninggal nanti. Berbeda dengan orang lain yang terkadang lebih memilih mencoba tes kuliah dari jalur beasiswa, tetapi itu sama sekali ia tak mau berpikir, ya karena ia memang hidup dalam keluarga yang serba mampu tapi tidak terlalu kaya.
Matahari siang itu telah berada di atas pundak, dengan cerahnya ia bersinar sehingga terkena perih sinarannya di kulit tangan, ia terus berjalan bersama langkah kaki Romi. Romi yang sibuk mengurus semua berkas kelengkapan perkuliahannya nanti. Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkannya. Ia singgahi sebuah restoran mewah. Mobil-mobil mewah tertata rapi diparkiran dan tak pernah kekosongan. Tak banyak sepeda motor menginjak parkir  itu, bahkan hanya satu atau dua buah motor orang-orang biasa. Sehingga mobil-mobil para milyader itulah yang telah memenuhi ruang-ruang parkiran.
Romi terus menyantap makan siangnya dengan lahap dengan sepiring nasi yang disertai lauk-lauk yang harganya sebanding dengan  3 kali makan orang biasa dalam sehari.  Beraneka ragam minuman yang ia pesan tertata diatas mejanya, Hingga ia berlama-lama disana. Ia terus menyelesaikan tugas makan siangnya dengan tenang dan aman, terkadang sering menoleh sebentar ke arah luar lewat jendela kaca yang ia duduki di lantai dua. Sesuap-sesuap nasi yang ia masukkan kedalam mulutnya terus dikunyah dan hingga kering piring yang ia buat. Setelahnya ia Meminum minuman manis yang ada didepannya, sambil menikmati udara siang itu diluar. Dengan manjanya angin terus menyapa sehingga membuat mata Romi berat untuk terbuka. Ia merasa mengantuk. Pergi lah ia kedalam sebuah kamar mandi, ia terus mencucikan mukanya. Setelah itu rasa kantuk telah hilang, ia memulai lagi pekerjaannya, yaitu menyelesaikan semua berkas perkuliahannya.
Beberapa minggu setelah proses penyerahan berkas. Jadwal kuliah pun telah keluar, artinya ia akan segera terjun ke dunia perkuliahan. Banyak yang ia lalui disana, dari sekedar kuliah dan meneliti, Bermain sambil kuliah dan lain-lainnya. Mengerjakan tugas-tugas dan menyerahkannya. Hingga prosess akhirnya telah ia selesaikan. Disana ia tak jauh berbeda juga dengan pendidikannya semasa S1. Sama-sama mendapatkan nilai yang pas-pasan. Iapun hanya mengenal beberapa teman saja. Sesungguhnya ia punya system kuliah yang sama seperti S1 dulu, ngejar gelar?  atau ngejar ilmu?. Yang terpenting baginya ialah telah mendapat gelar Romi Irawan, M.Pd.
Beberapa bulan setelah ia menjadi seorang Magister, ia mencoba mencari lowongan dosen pengajar di sebuah kampus negeri yang favourite. Disana ia mengenal seorang perempuan yang pernah ia kenali sewaktu S1 nya dulu. Namanya adalah Raisa. Ia sudah duluan menjadi dosen disana, karena ia memang perempuan yang mempunyai kelebihan skill dan ilmu.  Meskipun ia mengenalinya, ia tak terlalu akrab dan hanya sekedar mengenal namanya saja, ia tak tanggung-tanggung dan tak merasa malu untuk meminta bantuan kepadanya. Bantuan yang jauh lebih konyol seperti para polisi yang lewat dari jalur sogokan uang yang berlimpah. Ia terus mencari nya, tak jarang ia mendatangi kampus untuk menjumpainya. Tiba suatu saat kebetulan saja Raisa sedang berada perkarangan parkir pagi itu. ia baru saja tiba dikampus. Romi langsung menyapanya.
“Raisa, ini aku Romi. Masih kenalkan.
“oh kamu ya yang dulu pernah satu unit sama aku waktu semester 2?”
“ia sa,
“BTW, kamu ngapain aja disini?? Ada tugas ya ?”
“yah aku mau jumpai kamu, udah lama ga jumpa juga kan”
“ia sih lumayan lama”
Mereka terus berbincang selama beberapa menit, hingga akhirnya Romi menanyakan lowongan kerja.
“sa, aku mau nanya nih, boleh ?
“ia apa Rom?”
“BTW dikampus kamu ada lowongan kerja ga?”
“setau saya sementara ini ga ada rom, coba aja kamu cari diluar sana?”
“kok dicari diluar sih sa, kan ada kamu disini, kamu bisa bantu aku masukin sebentar”
“aduh rom, aku ga bisa lama-lama disini, lain kali kalau jumpa kita ngobrol lagi”
“baiklah sa”
Raisa langsung meninggalkan Romi diparkir, ada saja alasan yang Raisa buat, bukan untuk menghindari Romi, tetapi ia ngerti seperti apa Romi, bukan ia tak mau membantu, tapi ada saatnya yang tepat ia membantu orang tepat. Ia juga mengerti seperti apa dosen yang diminta oleh pihak kampus. Sementara Romi kewalahan dan merasa biasa saja di tolak oleh Raisa, ia langsung meninggalkan kampus itu, mencari tempat-tempat lain.
Seminggu, sebulan bahkan setahun ia juga jadi pengangguran. Meskipun ia masih merasa kecukupan, ia ingin kerja. Tetapi semua tempat menolaknya. Entah apa salahnya, diberkas nya tak ada satupun sertifikat-sertifikat bahkan ia tidak mempunyai bakat dan keahlian khusus. Ia juga termasuk mahasiswa yang biasa-biasa aja di S1 dulu, ia jarang aktif di grub dan kegiatan-kegiatanya yang ada di forum-forum yang ada di kampus, sehingga ia tak punya banyak teman dan kenalan. Seolah-olah dunia tak membutuhkannya.
Sekarang, ia sering larut dalam lamunannya, pagi sore malam ia terus berpikir, apa salah ku?. Ia terus mengingat perkataan Raisa saat jumpa dengan di parkiran kampusnya.
“coba aja kamu cari diluar sana?”
Ini sebuah kata yang misteri buat dia, sehingga ia berpikir ratusan kali bahkan lebih, ketika ia hanya menanyakan sesuatu, seenaknya saja Raisa berbicara seperti itu, inilah yang dipikirin Romi kenapa Raisa tega seperti itu. ia mulai mengingat apa yang ada pada Raisa, kenapa ia bisa mudah diterima menjadi Dosen Pengajar di kampus favorite itu.  ia terus mengingat hingga ia menemukan jawabannya.
Raisa anak yang tidak terlalu pintar juga, tetapi ia rajin belajar hingga ia bisa lulus S1 dengan nilai Cumloude. Ia sering aktif dikelas dan diluar kampus sehingga banyak orang yang mengenalinya. Ia juga punya bakat dalam seni tari dan drama meskipun ia bukan anak sastra. Ia juga akrab menyapa teman-teman dan dosen-dosen dikampus dan diluar, sehingga terlihat aroma keramahannya. Terus banyak lagi yang ada pada jati diri Raisa. Romi terus menerus mengambil pelajaran dan kesimpulan dari semua yang telah ia pikirkan. Bahwa kerja tidak butuh Gelar tapi Ilmu dan Skill.
Semua menjadi sadar, tetapi ia belum terlambat. Romi tetap menjadi pengangguran dan sekarang hanya menjadi bagian pekerja di sebuah toko milik orang tuanya, ia mulai belajar mengelola dengan baik, bagaimana harus bisa mengikat hati orang agar bisa dekat dengannya. Ia juga belajar memasak dan lain-lainya. Sehingga akhirnya ia punya keahlian dibidang memasak dan bukan menjadi seorang dosen pengajar dikampus-kampus.

“belajarlah sejak dini, latihlah keahlian, sesungguhnya takdir itu tak ada yang mengetahuinya”
@risnaerita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar