Sehat Itu Pilihan, Sakit Itu Peringatan
Aku selalu pulang dari kampus tepat waktu. Bukan karena disiplin, tapi karena malas berlama-lama di luar di bawah teriknya matahari. Biasanya, aku membeli makanan dan langsung menyantapnya di kamar kost. Rumah kost yang terdiri dari beberapa lantai dan kamar-kamar yang tersusun rapi itu sudah seperti surga bagiku. Nyaman, tenang, dan membuatku betah berlama-lama di dalam kamar. Terkadang aku juga menghabiskan waktu luang bermain bersama teman-teman kost, meski aku punya satu kekurangan besar: aku benci memasak.
Asap dari dapur yang menyusup hingga ke dalam kamar membuatku sering kesal. Mungkin karena aku memang terlalu malas untuk urusan dapur. Tubuhku yang kurus dan tak terurus adalah bukti kebiasaan burukku: malas makan tepat waktu. Kalau sedang bosan keluar, aku lebih memilih menahan lapar daripada belanja bahan makanan. Sahabat-sahabatku, Nera dan Rita, selalu mengingatkan agar aku makan teratur, tapi seringkali aku mengabaikan nasihat mereka.
Di kampus, tugasku seolah tiada habis. Saking sibuknya, aku merasa kenyang hanya dengan beban tugas yang terus menumpuk. Sementara Nera dan Rita selalu membawa bekal dari rumah, aku hanya sesekali membeli kue di kantin. Bayangkan, aku bisa bertahan makan hanya sekali sehari selama satu semester. Aneh, tapi benar.
Empat bulan pun berlalu, semester usai. Tubuhku mulai menunjukkan gejala yang tak biasa—aku sering demam dan merasa lemas. Aku pergi sendiri ke apotek, membeli obat penurun panas, tanpa memberi tahu siapa pun, termasuk sahabat-sahabatku.
Suatu malam, ponselku berdering. Ibu tiriku menelepon, setelah sekian lama tak kuangkat panggilannya.
“Assalamu’alaikum, Nak,”
“Wa’alaikumussalam, Bu.”
“Kamu ke mana saja? Ibu telpon nggak diangkat.”
“Aku sibuk.”
“Ya sudah, jaga kesehatan, ya.”
Percakapan selesai. Aku menutup telepon. Aku tahu ibu tiriku peduli, tapi entah kenapa aku tetap saja merasa asing. Aku menerimanya ada dalam hidupku, tapi tidak sepenuhnya membuka hati.
Malam itu, hujan turun. Langit seperti menangis, meski aku tak merasa sedih. Pohon-pohon di luar tampak tenang, seolah menikmati setiap tetes hujan. Aku tersenyum kecil, tenggelam dalam pikiranku sendiri, sambil menggigil menahan sakit.
Keesokan harinya, tubuhku makin lemah. Tangan bergetar, kaki berat melangkah. Aku hanya ingin berbaring. Dengan sisa tenaga, aku meraih HP dan mengirim pesan ke Nera dan Rita. Aku memberi tahu bahwa aku sakit dan tidak bisa masuk kuliah hari itu. Tak lama, mereka datang dengan wajah cemas, membawa bekal dan obat-obatan.
Mereka tak henti mengomeliku, menjelaskan dari A sampai Z tentang pentingnya menjaga kesehatan. Saat itulah hatiku mulai terbuka. Aku sadar—aku telah menyia-nyiakan perhatian, kesehatan, bahkan hidupku sendiri.
Sejak itu, aku mulai belajar hidup lebih baik. Aku belajar memasak, meski dulu bekal mentah dari ibu tiriku hanya kusedekahkan ke teman kost karena aku malas memasak. Aku mulai makan tepat waktu, tidak lagi malas-malasan.
Dari rasa sakit, aku belajar arti perhatian. Dari sahabat, aku belajar berubah. Karena aku sadar, sakit bukan membawa ke dunia yang indah, tapi menjadi peringatan—bahwa sehat itu pilihan yang harus dijaga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar