Senin, 17 Juli 2017

Cerpen (Tinta Pelangi )


Suasana pagi itu bagaikan air es yang keras menyejukkan. Rini sibuk sendiri dengan perlengkapan sekolahnya. Sementara ibunya selalu menyuruh Rini agar bisa bergegas kesekolah dengan santai tanpa terburu-buru. Setiba di sekolah, ia biasanya selalu malas menulis catatan sekolah, ntah apa gerangan yang ada pada  tangan rini sehingga ia malas nyoret buku kosong itu. Gurunya selalu mengomel terhadap sikap Rini, tapi ia hanya terima apapun omelan gurunya. She don’t care.
Saat tiba waktu istirahat, di bawah rindangnya pohon yang tertata rapi di depan dan belakang ruang kelas, para murid sibuk dengan aktivitas masing-masing. Rini sendiri mulai mengoreksi catatan temannya di kelas, ia meminta pada Ayu untuk memperlihatkan catatannya, ia merasa kagum sama isi buku Ayu. Satu persatu kata dicoret di kertas putih oleh Ayu, tersusun rapi di tiap baris dan terlukis bunga-bunga disudut kertas. Emang ayu adalah seorang siswa yang rajin dalam hal belajar dan ia membuat catatannya sebagus mungkin agar ia bisa terus bersemangat dalam belajar.
Malam itu, Rini ia mulai termenung dibawah rembulan, rembulan tampak bahagia, ia bersinar begitu terang bersama bintang dan angin bersama dedaunan yang menggoyangkan. Andaikan bulan itu mampu merangkai kata, Rini ingin sekali bertanya padanya.  Ia tidak sadar semakin terlarut dalam keheningan malam itu. Ketika malam sudah memberikan kode padanya bahwa saatnya untuk terlelap tidur. 
Kriinnngg..... suara piring terjatuh. Ibunya bergegas bangun mencari siapa yang menjatuhkannya.
“Rin, kamu ngapain aja, kok masih di sini belum tidur”.
“Itu bu rini ga sengaja pecahinnya”
“tu kan,,, kamu aja jalannya di kegelapan, wajar aja piringnya jatuh, ya sudah masuk sana dan tidur terus”.
Tangan Rini mulai dingin sedingin salju. Ia tau aja ibunya suka ngomel-ngomel terus gitu.
“maaf ibu, semua salah Rini” bisik Rini dalam hati.
Ibunya terkadang suka ngintip kegiatan anaknya, apa saja aktivitas yang ia lakukan. Bahkan sesekali pernah bertanya pada teman-temannya. Ibunya mengerti apa yang ia tidak bisa lakukan.
Keseokan harinya, ibunya punya ide yang harus ia tunjukkan untuk anaknya. Ia  berusaha mencari dan membeli polpen pelangi dan alat lainnya. Sebuah kejutan, ibunya menaruh alat-alat tersebut di atas meja kamar rini.
Jam menunjukkan waktu makan siang, ibunya masih menunggu Rini di teras bersama kucing kesayangan Rini. Tiba-tiba Rini muncul.
“Assalamu’alaikum ibu” sahut Rini.
“Wa’alaikum salam nak”  kamu telat pulang ya”. jawab ibunya.
“ia bu maaf tadi aku ketinggalan bus, jadi harus nunggu bus lain”
Ia segera masuk kedalam kamar kesayangannya, tiba-tiba ia melihat sebungkus alat yang ia lihat dan membukanya. Ia terkejut dengan hadiah itu karena polpen pelangi yang tintanya lengkap, merah, biru, hitam, ungu, kuning, dll. Ia menemukan kertas kecil dan membacanya.
“nak, menulislah !!! “
“agar dirimu mencintai buku”
Rini mulai memikirkan yang aneh pada dirinya, ia terdiam atas ucapan tersebut, merasakan getaran yang begitu dasyat dan tangan mendingin dan ia mengerti keinginan ibunya serta apa kesalahannya. Ia menghampiri ibunya didapur. Rini langsung memeluk ibunya dan berterima kasih kepada ibu, ia berjanji akan melaksanakan kewajibannya seorang siswa. Dan ia menjadi seorang siswa yang paling rajin menulis yang kreatif dengan berbagai kreatifitas yang ia buat untuk membangkit semangatnya belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar