Kamis, 20 Juli 2017

cerpen (Antara Kopi dan Kebahagiaan)



Antara Kopi dan Kebahagiaan
Malam itu angin dari arah selatan menghampiri lorong disebuah desa, banyak anak-anak muda menikmati malam itu dengan secangkir kopi hangat di bawah pondok rindang. Mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam hingga matahari kembali terbit dari ufuk timur. Orang-orang yang lewat dijalan itu selalu memalingkan kearah pondok itu, karena ada saja suara riuh yang terdengar suara cekikikan bercampur antara menang dan kalah dalam sebuah pertandingan sepak bola.
Ada seorang lelaki beristri satu dan anak dua, ia adalah seorang penikmat kopi yang berada dipondok itu, rekan-rekannya biasa memanggil dengan sebutan Toni. Ia punya kesibukan yang luar biasa, meskipun begitu, ia selalu menyempatkan menikmati malam bersama kopi di pondok rindang itu. Ketika matahari telah kembali hadir di pagi hari, ia pulang kerumah dan tidur setengah jam, istrinya yang penyabar dan sangat baik hatinya tak pernah memarahi suaminya, melainkan hanya memberikan peringatan-peringatan saja. Bahkan ia tak pernah mendengarnya. Jam pagi itu sudah menunjukkan pukul 7.00. istrinya segera membangunkan agar ia tidak terlambat kerja. Ia segera bergegas kekantor secepatnya. Absensinya tidak boleh lewat jam 8.00. tetapi pria itu selalu on time ketika kekantor.
Hari kehari berikutnya, ia tak pernah berubah, meskipun ia termasuk orang yang baik dimata orang lain, tetapi ia tak pernah meluangkan waktunya dirumah, anak-anaknya yang masih sekolah di sekolah dasar, tak sanggup menahan rasa rindunya terhadap ayahnya. Mereka adalah Rio dan Ria, anak kembar yang dimiliki oleh Tino bersama istrinya.
Suatu malam, jam dinding terus berjalan tanpa berhenti, hingga pukul 23.00, Rio dan Ria memasuki kamar ibunya, mereka berdua selalu tak pernah tidur lebih awal meskipun ibunya sudah menyuruh tuk bermimpi, mereka tenggelam dalam keheranan dan akhirnya menanyakan tentang ayahnya kenapa mereka tak pernah bertemu, mereka ingin bertemu meskipun hanya sejam, semenit atau sedetik seperti anak-anak yang lain. Mereka adalah anak yang cerdas, meskipun masih dikatakan masih tak mengerti urusan orang tua, tetapi mereka mempunyai hati, hati yang paling mulia, dan ingin di muliakan oleh sang ayah dan ibu, tetapi ayahnya tak pernah memberikan hati yang damai kepada mereka. Ketika itu juga ibunya terkejut ketika ada yang mengetuk pintu dari luar, ia mengira Toni suaminya, betapa bahagianya ia, tetapi bahagia itu hanyalah sebuah kegagalan pada malam itu, ia segera membuka pintu dan melihat anak-anaknya dengan wajah yang begitu menyedihkan.
“ibu, ayah kemana aja sih, kami mau dipeluk dan bermain sama ayah, Kenapa ibu tak pernah membantu keinginan kami”
“sayang, kalian kenapa belum tidur jam segini” ibunya mencoba mengalihkan pertanyaan mereka. Tetapi mereka tetap merengek menanyakan ayahnya.
“ibu, ayah kemana?? Tak bisakah kami tidur sama ayah malam ini, hanya sebentar ibu”
“ayahmu sudah pulang tadi nak, tapi ia sudah keluar lagi menuju pondok rindang diseberang lorong sana”
“ibu, apa yang ada disana hingga ayah betah berlama disana?? Bisakah kami ikut dengan ayah malam ini, ibu anterin kami ya!!
“ayahmu hanya ingin menenangkan pikiran dengan secangkir kopi dan menikmati pertandingan sepak bola bersama teman-temannya”
“tapi ibu, bukankah kami mampu membuat ayah senang??”
“sudah nak, kita tidur saja ya!!”
 Mereka tetap sedih dan menahan kesedihannya tanpa membanjiri pipinya dengan air mata. Ibunya yang sabar menjaga anak-anaknya, sampai mereka tertidur lelap. Ada  celah-celah kelembutan di helaian bulu matanya sehingga kita bisa menebak sebuah kesabaran  seorang istri yang luar biasa.
Keesokan harinya sepulang sekolah, Rio dan Ria membuka sebuah tabungannya, mereka memang rajin menabung tiap hari, bahkan tak pernah jajan sekalipun disekolah, karena ia tau itu uang pemberian dari ayahnya.  Melihat uang tabungan itu lumayan banyak dari hasil tabungan mereka berdua selama beberapa tahun dengan jumlah 4  ribu perhari. Setelah menghitung jumlahnya, mereka membawakan uang tabungan itu kesebuah toko, mereka meminta pada penjual untuk membeli satu bungkus kopi hitam yang persis dijual di pondok rindang kesukaan ayahnya. Setelah mendapatkan kopi yang mereka cari, mereka mengunjungi sebuah tempat penjualan tiket bola, agar mereka bisa memasang dirumahnya.
Setelah mendapatkan sebuah ide yang akan mereka buat, mereka segera pulang kerumah, saat itu hari semakin memerah ke orengan, suara adzan telah terdengar dari setiap mesjid. Mereka rela berjalan kaki sambil menikmati segelas air aqua yang dibelinya dijalan. Begitu semangatnya mereka sehingga tak merasakan lelah, sementara ibunya sudah menunggu didepan rumah dengan kekuatiran yang begitu dalam, ibunya sangat kuatir dengan keberadaan mereka karena tak pernah pulang setelat itu, biasanya mereka sudah tiba jam 5 dirumah ketika bermain dirumah, setelah beberapa menit kemudian, Rio dan Ria tiba dirumah dengan sekantong kopi dan voucher sepak bola yang dirangkul erat oleh Rio dan Ria. Mereka segera masuk dan ibunya langsung menanyakan sedetil-detilnya apa yang telah mereka lakukan hingga pulang terlambat.
“apa ini nak? Untuk apa kalian beli kopi ini, siapa yang akan meminumnya?”
“ini untuk ayah, bu. Kami mau menikmati kopi bersama ayah dengan menyaksikan pertandingan sepak bola malam ini, bu”
Ibunya sangat terkejut dan mulutnya seolah-olah sudah terkunci dan tak keluar suara lembutnya itu, ia terdiam dan sedih melihat anak-anaknya.
Masih dimalam yang sama, Rio dan Ria telah selesai mandi dan makan malam bersama ibunya tanpa seorang ayah, mereka tak berbicara sedikitpun setelah ibunya terdiam sebelumnya. Setelah makan malamnya selesai dan tugas mereka juga telah diselesaikan bersama ibunya, jam sudah menunjukkan pukul 21.30. Rio memberi kode kepada Ria untuk segera menyiapkan perencanaan mereka. Rio memasangkan siaran televisi yang telah ia pelajari dari tempat ia membeli voucher sore tadi dan Ria menyiapkan kopi special buat ayahnya yang tertata rapi dengan gelas yang berbeda di atas tikar bulu  yang empuk. Sementara ibunya hanya melihat dan membantu apa yang tidak bias mereka lakukan. Pekerjaan mereka selesai di jam 22.00. mereka menanti kepulangan ayahnya setengah jam kemudian, karena mereka sudah tahu bahwa ayahnya selalu pulang jam 22.30 dan pergi lagi jam 23.00.  Mereka telah mengatur semua perencanaan itu sebelumnya, mengatur jam-jam berapa yang harus ia lakukan perencanaanya.
Jam 22.30. tiba, mereka sangat senang, dan segera menanti ayahnya didepan pintu.
“assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam”
            Ayahnya sangat terkejut, karena melihat anak-anaknya yang membuka pintu, biasanya istrinyalah yang selalu membuka pintu. Tanpa basa-basi, ayahnya hanya mencium anak-anaknya dan masuk kamar dan segera mandi dan makan selama 20 menit tanpa ada jeda istirahat. Setelah itu selesai, anak-anaknya menunggu ayahnya di pintu kamar, ketika si ayah keluar, lantas anak sulungnya itu langsung memulai mengeluarkan kalimat-kalimat dari mulutnya.
“ayah, malam ini kita ngopi dan nonton bola bersama ya!!! Aku dan Ria telah menyiapkan kopi buat ayah, ayo ayah, hanya malam ini saja, kami ingin ketawa dan bermain bersama ayah”
Sang ayah kaget dengan perkataan anak sulungnya, dan langsung menuju ruang istirahat, disana ia melihat beberapa cangkir kopi dan tanyangan sepak bola yang akan mulai beberapa menit nanti.  Ayahnya sangat terharu atas perencanaan kedua anaknya. Bahkan ia menyesal telah mengacuhkan anak-anaknya. Ia menyadari bahwa kebahagiaan keluarga lah yang paling penting. Ia segera meminta maaf kepada istri dan anank-anaknya. Mereka dengan senang hati memaafkan ayahnya.
Setelah itu, mereka menyaksikan pertandingan bola dan menikmati kopi kesayangan itu bersama-sama, tak ada lagi kekacauan yang terjadi setelah itu, hingga malam telah larut, mereka sangat bahagia dengan perubahan suasana malam itu.
Sementara itu, rekan-rekannya menanyakan kabar Toni, karena beberapa malam setelah itu tak pernah muncul lagi di pondok rindang favorit anak muda desa mereka. Rekan-rekannya yang telah beristri, termotivasi dari kisah nya, karena ia telah menceritakan apa yang paling penting dalam kebersamaan. Akhirnya mereka sangat bahagia sampai anak-anaknya menjadi dewasa setelah melalui hari-hari tanpa ada masalah dalam keluarga itu.

“jadilah keluarga sebagai penenang pikiran, agar hari-harimu selalu ceria bersama keluarga, dan jadilah hidup lebih berarti agar tak ada yang disesali dikemudian hari”
@risnaerita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar