Antara Kopi dan Kebahagiaan
Malam itu angin dari arah selatan menghampiri lorong disebuah desa,
banyak anak-anak muda menikmati malam itu dengan secangkir kopi hangat di bawah
pondok rindang. Mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam hingga matahari kembali
terbit dari ufuk timur. Orang-orang yang lewat dijalan itu selalu memalingkan
kearah pondok itu, karena ada saja suara riuh yang terdengar suara cekikikan
bercampur antara menang dan kalah dalam sebuah pertandingan sepak bola.
Ada seorang lelaki beristri satu dan anak dua, ia adalah seorang
penikmat kopi yang berada dipondok itu, rekan-rekannya biasa memanggil dengan
sebutan Toni. Ia punya kesibukan yang luar biasa, meskipun begitu, ia selalu
menyempatkan menikmati malam bersama kopi di pondok rindang itu. Ketika
matahari telah kembali hadir di pagi hari, ia pulang kerumah dan tidur setengah
jam, istrinya yang penyabar dan sangat baik hatinya tak pernah memarahi
suaminya, melainkan hanya memberikan peringatan-peringatan saja. Bahkan ia tak
pernah mendengarnya. Jam pagi itu sudah menunjukkan pukul 7.00. istrinya segera
membangunkan agar ia tidak terlambat kerja. Ia segera bergegas kekantor
secepatnya. Absensinya tidak boleh lewat jam 8.00. tetapi pria itu selalu on
time ketika kekantor.
Hari kehari berikutnya, ia tak pernah berubah, meskipun ia termasuk
orang yang baik dimata orang lain, tetapi ia tak pernah meluangkan waktunya
dirumah, anak-anaknya yang masih sekolah di sekolah dasar, tak sanggup menahan
rasa rindunya terhadap ayahnya. Mereka adalah Rio dan Ria, anak kembar yang
dimiliki oleh Tino bersama istrinya.
Suatu malam, jam dinding terus berjalan tanpa berhenti, hingga pukul
23.00, Rio dan Ria memasuki kamar ibunya, mereka berdua selalu tak pernah tidur
lebih awal meskipun ibunya sudah menyuruh tuk bermimpi, mereka tenggelam dalam
keheranan dan akhirnya menanyakan tentang ayahnya kenapa mereka tak pernah
bertemu, mereka ingin bertemu meskipun hanya sejam, semenit atau sedetik
seperti anak-anak yang lain. Mereka adalah anak yang cerdas, meskipun masih
dikatakan masih tak mengerti urusan orang tua, tetapi mereka mempunyai hati,
hati yang paling mulia, dan ingin di muliakan oleh sang ayah dan ibu, tetapi
ayahnya tak pernah memberikan hati yang damai kepada mereka. Ketika itu juga
ibunya terkejut ketika ada yang mengetuk pintu dari luar, ia mengira Toni
suaminya, betapa bahagianya ia, tetapi bahagia itu hanyalah sebuah kegagalan
pada malam itu, ia segera membuka pintu dan melihat anak-anaknya dengan wajah
yang begitu menyedihkan.
“ibu, ayah kemana aja sih, kami mau dipeluk dan bermain sama ayah, Kenapa
ibu tak pernah membantu keinginan kami”
“sayang, kalian kenapa belum tidur jam segini” ibunya mencoba
mengalihkan pertanyaan mereka. Tetapi mereka tetap merengek menanyakan ayahnya.
“ibu, ayah kemana?? Tak bisakah kami tidur sama ayah malam ini, hanya
sebentar ibu”
“ayahmu sudah pulang tadi nak, tapi ia sudah keluar lagi menuju pondok
rindang diseberang lorong sana”
“ibu, apa yang ada disana hingga ayah betah berlama disana?? Bisakah
kami ikut dengan ayah malam ini, ibu anterin kami ya!!
“ayahmu hanya ingin menenangkan pikiran dengan secangkir kopi dan
menikmati pertandingan sepak bola bersama teman-temannya”
“tapi ibu, bukankah kami mampu membuat ayah senang??”
“sudah nak, kita tidur saja ya!!”
Mereka tetap sedih dan menahan
kesedihannya tanpa membanjiri pipinya dengan air mata. Ibunya yang sabar
menjaga anak-anaknya, sampai mereka tertidur lelap. Ada celah-celah kelembutan di helaian bulu matanya
sehingga kita bisa menebak sebuah kesabaran
seorang istri yang luar biasa.
Keesokan harinya sepulang sekolah, Rio dan Ria membuka sebuah
tabungannya, mereka memang rajin menabung tiap hari, bahkan tak pernah jajan
sekalipun disekolah, karena ia tau itu uang pemberian dari ayahnya. Melihat uang tabungan itu lumayan banyak dari
hasil tabungan mereka berdua selama beberapa tahun dengan jumlah 4 ribu perhari. Setelah menghitung jumlahnya,
mereka membawakan uang tabungan itu kesebuah toko, mereka meminta pada penjual
untuk membeli satu bungkus kopi hitam yang persis dijual di pondok rindang
kesukaan ayahnya. Setelah mendapatkan kopi yang mereka cari, mereka mengunjungi
sebuah tempat penjualan tiket bola, agar mereka bisa memasang dirumahnya.
Setelah mendapatkan sebuah ide yang akan mereka buat, mereka segera pulang
kerumah, saat itu hari semakin memerah ke orengan, suara adzan telah terdengar
dari setiap mesjid. Mereka rela berjalan kaki sambil menikmati segelas air aqua
yang dibelinya dijalan. Begitu semangatnya mereka sehingga tak merasakan lelah,
sementara ibunya sudah menunggu didepan rumah dengan kekuatiran yang begitu
dalam, ibunya sangat kuatir dengan keberadaan mereka karena tak pernah pulang
setelat itu, biasanya mereka sudah tiba jam 5 dirumah ketika bermain dirumah,
setelah beberapa menit kemudian, Rio dan Ria tiba dirumah dengan sekantong kopi
dan voucher sepak bola yang dirangkul erat oleh Rio dan Ria. Mereka segera
masuk dan ibunya langsung menanyakan sedetil-detilnya apa yang telah mereka
lakukan hingga pulang terlambat.
“apa ini nak? Untuk apa kalian beli kopi ini, siapa yang akan
meminumnya?”
“ini untuk ayah, bu. Kami mau menikmati kopi bersama ayah dengan
menyaksikan pertandingan sepak bola malam ini, bu”
Ibunya sangat terkejut dan mulutnya seolah-olah sudah terkunci dan tak
keluar suara lembutnya itu, ia terdiam dan sedih melihat anak-anaknya.
Masih dimalam yang sama, Rio dan Ria telah selesai mandi dan makan malam
bersama ibunya tanpa seorang ayah, mereka tak berbicara sedikitpun setelah
ibunya terdiam sebelumnya. Setelah makan malamnya selesai dan tugas mereka juga
telah diselesaikan bersama ibunya, jam sudah menunjukkan pukul 21.30. Rio
memberi kode kepada Ria untuk segera menyiapkan perencanaan mereka. Rio
memasangkan siaran televisi yang telah ia pelajari dari tempat ia membeli
voucher sore tadi dan Ria menyiapkan kopi special buat ayahnya yang tertata
rapi dengan gelas yang berbeda di atas tikar bulu yang empuk. Sementara ibunya hanya melihat
dan membantu apa yang tidak bias mereka lakukan. Pekerjaan mereka selesai di
jam 22.00. mereka menanti kepulangan ayahnya setengah jam kemudian, karena
mereka sudah tahu bahwa ayahnya selalu pulang jam 22.30 dan pergi lagi jam 23.00. Mereka telah mengatur semua perencanaan itu
sebelumnya, mengatur jam-jam berapa yang harus ia lakukan perencanaanya.
Jam 22.30. tiba, mereka sangat senang, dan segera menanti ayahnya
didepan pintu.
“assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam”
Ayahnya sangat
terkejut, karena melihat anak-anaknya yang membuka pintu, biasanya istrinyalah
yang selalu membuka pintu. Tanpa basa-basi, ayahnya hanya mencium anak-anaknya
dan masuk kamar dan segera mandi dan makan selama 20 menit tanpa ada jeda
istirahat. Setelah itu selesai, anak-anaknya menunggu ayahnya di pintu kamar,
ketika si ayah keluar, lantas anak sulungnya itu langsung memulai mengeluarkan
kalimat-kalimat dari mulutnya.
“ayah, malam ini kita ngopi dan nonton bola bersama ya!!! Aku dan Ria
telah menyiapkan kopi buat ayah, ayo ayah, hanya malam ini saja, kami ingin
ketawa dan bermain bersama ayah”
Sang ayah kaget dengan perkataan anak sulungnya, dan langsung menuju
ruang istirahat, disana ia melihat beberapa cangkir kopi dan tanyangan sepak
bola yang akan mulai beberapa menit nanti.
Ayahnya sangat terharu atas perencanaan kedua anaknya. Bahkan ia
menyesal telah mengacuhkan anak-anaknya. Ia menyadari bahwa kebahagiaan
keluarga lah yang paling penting. Ia segera meminta maaf kepada istri dan
anank-anaknya. Mereka dengan senang hati memaafkan ayahnya.
Setelah itu, mereka menyaksikan pertandingan bola dan menikmati kopi
kesayangan itu bersama-sama, tak ada lagi kekacauan yang terjadi setelah itu,
hingga malam telah larut, mereka sangat bahagia dengan perubahan suasana malam
itu.
Sementara itu, rekan-rekannya menanyakan kabar Toni, karena beberapa
malam setelah itu tak pernah muncul lagi di pondok rindang favorit anak muda
desa mereka. Rekan-rekannya yang telah beristri, termotivasi dari kisah nya,
karena ia telah menceritakan apa yang paling penting dalam kebersamaan.
Akhirnya mereka sangat bahagia sampai anak-anaknya menjadi dewasa setelah
melalui hari-hari tanpa ada masalah dalam keluarga itu.
“jadilah keluarga sebagai penenang pikiran, agar hari-harimu selalu ceria bersama
keluarga, dan jadilah hidup lebih berarti agar tak ada yang disesali dikemudian
hari”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar