Seorang
anak, yang tinggal dipelosok desa. Hidup berdua dengan ibunya disebuah rumah
berdinding bambu dan beratap daun yang sudah tua. Bahkan ketika langit
menurunkan hujan. Terdapat bocoran atap yang terdapat disetiap sisi, mereka
terpaksa tidur disudut rumah dalam keadaan yang begitu dingin dan penuh air.
Mereka tak menyerah begitu saja, ada saja hal yang dilakukan ibu terhadap
anaknya dalam melindungi putrinya yang kedinginan.
Jauh
dari saudara bahkan tak ada satupun saudaranya yang membantu hidup mereka.
Mereka terus menjalani hidup seadanya. Hari-hari mereka hanya memunguti kayu
bakar di hutan dan sayur kangkung di sawah untuk dijual dengan harga yang cukup
untuk makan sehari sekali untuk berdua. Ibunya membawa keliling kedesa dan
membawa kesestiap rumah. Memasuki gang-gang kecil untuk menuju rumah-rumah
pembeli. Begitulah setiap hari yang ia lakukan. Dan tak pernah terlihat keluh
kesahnya. Ia pantang menyerah, hanya untuk mendapatkan bekal makan sehari-hari
saja.
Mereka menanam beberapa batang ubi kayu untuk
makanan sehari-hari mereka. Jika kangkung yang dijual tidak laku atau hanya
separuh saja yang terjual, ibunya terpaksa mengambil depotong ubi didalam tanah
yang masih utuh dan segar. Yang menjadi pengganti nasi untuk makan mereka. Dengan
setumpuk kelapa parut yang bercampur sedikit garam dan gula, bahkan terkadang
tidak ada gula dan garam, mereka menyantapnya dengan penuh syukur bersama ubi
tersebut. Enak, memang terasa enak sekali di mulut mereka. Sementara anak itu
tak pernah bersedih apa yang ia rasakan, ia selalu memberikan senyumnya kepada
ibu, dengan umur yang masih tergolong kanak-kanak, ia tak mudah menangis dengan
kondisi yang ia rasakan. Ia tetap bahagia selama matahari masih terlihat di
dunia, ia bisa memberikan kebahagiaan dan senyum yang indah kepada ibu dan
orang sekitarnya. Namun sayang, ia tak punya teman disekelilingnya, karena
meraka hidup dan tinggal jauh dari rumah-rumah orang lain, tak jauh tak dekat
dengan hutan. Ketika rembulan tak keluar dimalam hari, ibunya selalu menyalakan
sebuah api unggun kecil, mereka duduk ditepi api berdua dan merasakan
kehangatan yang begitu dalam. Seperti matahari yang selalu memberikan penerang
jalan di siang hari dan menyengat dikulit.
Ada tawa dan
cerita yang mereka ciptakan, meskipun hidup serba kekurangan, tetapi mereka
mampu menciptakan hidup yang indah berdua bersama nikmat yang telah diberikan
Tuhan. Selama mereka bisa makan dan tidak kelaparan, mereka tak lupa bersyukur.
Dia anak
yang baik, lincah dan pintar meskipun ia tidak pernah bersekolah, tetapi ada
ibu yang smenjadikan ia terlihat pintar. Matanya yang kecil dan bibir yang
mungil, selalu terlukis senyum yang indah setiap hari, seperti ibunya. Rambut
yang panjang terurai cantik dan lurus, semua karena urusan ibunya yang setia
membuat anaknya secantik mungkin seperti anak-anak lainnya. Anak itu begitu sayang kepada ibunya, sehingga
ia selalu berada dalam pelukan ibunya, ia bersyukur masih ada ibunya yang
menjadikan ia sebagai penerang didalam hidupnya. Menerangin segala kegelapan
yang ada pada hidup mereka dan segala kegelapan menjadi terang menerang kita
ibu dan anak saling melengkapi satu sama lain.
Mereka tetap
bisa bertahan hidup meski harus berpuasa ketika tak ada bekal makanan yang
harus mereka makan berdua. Lalu mereka tak pernah hidup dalam kemewahan, bahkan
untuk sekedar menikmati malam dengan sebuah bola lampu listrik saja tak pernah
mereka rasakan. Hebatnya mereka mampu berdiri dalam kekurangan tersebut.
Mereka tak mau menjadi pengemis seperti orang
lain, karena mereka merasa sanggup dengan tenaga yang di beri Tuhan. Kalau saja
Tuhan tidak memberikan tenaga pada hambanya, pasti saja mereka sudah tiada,
lalu untuk apa Tuhan memberika kekuatan? Itulah sebabnya mereka merasa bahwa
Tuhan yang memberikan kekuatan itu untuk mencari kebahagian semata dan dengan
segala yang bisa kita lakukan. Semua yang kita lakukan karena Tuhan yang telah
memberikan tenaga yang kuat, bukan untuk mengeluh jika memiliki kekurangan,
justru untuk menutupi segala kekurangan dengan kekuatan yang diberikan Tuhan.
Itulah prinsip seorang Ibu dalam hidupnya, mengajari anaknya agar bisa
menggunakan tenaga sebisa mungkin. Ialah ibu yang baik, yang telah di utuskan
Tuhan untuk menjaga dan melindungi anaknya.
Setiap hari,
anak itu melihat teman-teman sebayanya bermain dengan bahagia apa yang
diberikan orangtuanya. Mereka bisa menggunakan alat-alat elektronik pemberian
ibunya, sementara Putri tak pernah merasa iri atas apa yang ia lihat. Ia juga
bisa bahagia setiap hari, bermain dengan monyet kesayangannya yang jadi
pelindung, dan bernyanyi disela-sela hutan yang luas dan adem itu. ia bahkan
merasa bahwa ia lebih bahagia bisa menikmati hidup yang berbeda dari anak-anak
lain. Bermian dengan alam bukanlah hal yang tak ia sukai, justru itulah yang
bisa membuat hari-hari semakin cerah dan cemerlang.
Ketika pagi
telah tiba, matahari telah terbit, dan suara kokok ayam sudah terdengar
ditelinga ibunya, ia selalu membangunkan Putri anaknya dari buaian mimpi indah
itu. Bergegas menyiapkan alat-alat untuk memetik sayur, Putri terkadang juga
membantu sebelum ibunya pergi membawa ke pasar dan kerumah orang-orang untuk
menawarkan dagangannya. Meskipun banyak orang yang mengabaikannya, tak
memerlukan sayur ibunya, tetapi ada satu atau dua orang yang berhati baik dan
penuh iba langsung membelinya.
“berapa ini
satu ikat bu?” Tanya seorang pelanggan yang baik hati dan suka menolong orang
yang membutukan itu, dengan nada yang lemah lembut dan bersahabat ibu Putri
langsung menjawab dengan nada yang lembut juga.
“seribu
rupiah mbak, silahkan diambil mau yang mana?” dengan tawaran yang penuh harap
agar dagangannya diambil dan tak ditinggalkan begitu saja.
Terkadang
banyak mereka yang tak jadi mengambil dagangan ibu Putri, padahal harganya
begitu murah bagi orang-orang yang hidupnya sempurna bahkan yang pas-pasan.
Tetapi entah kenapa, ada saja yang tak jadi mengambilnya, seperti diacukan.
Tetapi ini adalah sebuah ujian, ujian yang harus ibu Putri lalui agar ia bisa
memberikan kebahagaian untuk anaknya yang sangat ia cintai itu. ia tak pernah
kelelahan berjalan mengelilingi desa menuju kedesa lain, bahkan satu kecamatan
ia lewati. Sungguh luar biasa ibunya yang hanya untuk kebahagiaan anaknya.
Suatu hari,
langit sangat menggelap, matahari tertidurdan tak keluar sedikitpun, terdengar
sebuah ledakan kecil dari langit dengan suara gemuruh, sebuah kilat dan petir
yang datang bergantian. Putri sangat takut dan ia segera pulang kerumah sebelum
hujan datang. Ketika ia tiba dirumah, langit terus mengeluarkan air dan
menjatuhkan kebumi sehingga membasahi semua rumput yang kering itu. sudah lama
air itu disimpan oleh awan setelah beberapa bulan kemarau panjang.
Hujan terus
mengalir dari atas dengan sangat deras, sehingga membuat Putri takut, atap
rumah mulai semakin terkoyak oleh sapaan angin beserta hujan. Ia tetap kuat
seperti yang ibunya pesankan ketika apapun terjadi. Ia terus merasa sangat
kedinginan, mencari sebuah selimut tebal yang sudah koyak dimakan
binatang-binatang kecil. Putri mencoba membalut tubuhnya dengan erat, semua ia
lakukan sendiri. Berdiri di didekat pintu yang tak terkena tetesan hujan. Ia
terus menatap kelang-langit rumah, melihat setiap tetesan hujan yang ia lihat,
menghitung tiap tetesan yang jatuh, semakin derasnya langit menangis semakin
banyaknya tetsan hujan yang jatuh. Ia hanya tersenyum dengan nyanyian yang ia
saksikan bersama tetesan hujan itu. ia tak terlihat sedih, hanya saja ia sangat
kedinginan.
Hari sudah
mulai menggelap sedikit demi sedikit, Putri masih mengikuti nyanyian tetesan
hujan, ia menanti ibunya yang tak kunjung pulang. Perasaannya menjadi tak enak,
ada gelisah dan bimbang, ingin keluar tetapi hujan terus melanda bumi. Petir
dan kilat tak mau mengalah berkelahi, membuat ia semakin takut untuk melangkah
keluar dari rumahnya.
“kenapa ibu
belum pulang ?, padahal ini sudah mau menjelang malam”
Ia terus
bertanya-tanya pada hatinya agar hatinya menjawab pertanyaannya. Tak ada yang
bisa ia jawab dari pertanyaan Putri. Sehingga tumbuhlah sebuah tekat dan
keberanian Putri untuk mencari ibunya keluar. Ia terus berjalan langkah demi
langkah bersama nyanyian tetesan hujan. Meskipun langit sangat menggelap, ia
tetap mampu berjalan. Berjalan bersama cahaya kilat dan petir yang sekali-kali
menghampiri bumi.
Hujan terus
membasahi tubuh Putri yang mungil itu, Putri tetap tersenyum meski keadaan yang
begitu dingin. Bahkan sekalipun ia tak pernah menyalahkan hujan dan petir yang
telah membuat ia basah dan takut. Ia terus berjalan mengkuti jejak ibunya pagi
tadi melewati jalan yang sempit dan penuh air yang mengalir. Membuat kaki Putri
menjadi penuh dengan lumur dan kotor. Ia hanya memakai sandal jepit yang sudah
tua dan mulai menipis. Bahagia, ia terus melangkah dengan kebahagian tanpa
menyadari keadaanya seperti apa, senang rasanya bisa menikmati dan bermain
bersama hujan yang terus menyapa tubuhnya.
Banyak
rintangan yang ia lalui ketika mencari ibunya, Putri harus melewati sebuah
jembatan kayu kecil dan ia harus menyesuiakan diri agar bisa selamat melintasi
jembatan kecil itu. ia harus melintasi bukit-bukit kecil. Semua ia lalui dengan
hati senang. Terus bernyanyi sepanjang jalan bersama hujan itu, sehingga ia tak
kesepian.
Di
pertengahan jalan, Putri melihat sesuatu di tengah jalan yang sedang terbaring
ikhlas. Ia semakin penasaran, dengan cepat ia melangkah menuju ke sesuatu yang
ia lihat itu. ia semakin penasaran dengan yang ia lihat dengan matanya sendiri.
Hingga akhirnya ia tiba ketempat itu. tenyata ia mengenal seseorang itu. itulah
adalah ibunya. Dengan wajah yang indah dan tersenyum ibunya tertidur, “apakah
benar ia tertidur?”. Tanya Putri dalam hati nya, ia seolah tak percaya itu
ibunya. Sementara itu benar ibunya. Ia terus membolak-balik ibunya apa yang
terjadi pada ibu. Ia semakin tak percaya kenapa ibu terlelap di atas jalan yang
basah dan kotor itu. ia terus berteriak sekuat mungkin dengan nada yang begitu
menyedihkan.
“ibuuuuuu,
inikah ibu ?”
“ibu
bangunnn !!!!”
“Putri
disini bersama ibu”
Putri mulai
menangis dengan begitu sesak. Ibunya tetap tak menjawab pertanyaan Putri. Putri
terus memeluk ibunya, ia memeriksa apa ada luka atau mungkin ada yang
membunuhnya. Ternyata ibunya dibunuh oleh petir tadi sore. Putri semakin kuat
menangis bersama hujan yang semakin deras. Ia terus membawa ibu dengan sebauh
dorongan kayu yang dibawa ibunya berjualan. Sekuat tenaga Putri membawa ibu ke
rumah.
Malam
semakin larut, hujan sudah mulai reda, langit mulai bercahay tak ada gelap
lagi,t tapi tidak dengan Putri, ia semakin menangis tak ikhlas ibunya pergi
tanpa pamit.
Keesokan
harinya, Putri membawa ibu dan memanggil orang-orang untuk membawa kepemakaman.
Untung saja masih ada yang peduli kali ini dalam pertolongan membawa ibunya
ketempat istirahat terakhir. Wajah ibu terlihat ada senyuman yang ia berikan
kepada Putri, agar putrid harus tetap tersenyum dimanapun dan apapun suasana
yang terjadi.
Malam
harinya, Putri hanya seorang diri, tak ada cahaya lagi dirumahnya, ia
merindukan cahaya itu dari ibunya, ketika ibunya harus memasak ubi kayu untuk
makan malam bersama. Putri sangat sedih, hidup seorang diri bukanlah hal untuk
Putri tidak bangkit, justru ia semakin kuat seperti yang dikatakan ibunya dulu.
Profesi
ibunya dulu digantikan oleh Putri, dimana Putri harus mencari kayu bakar dan
mengambil kangkung sendiri dihutan dan sawah, untuk berjualan ke luar desa,
hanya ada binatang-binatang kecil dihutan yang menemani hari-harinya. Ia tetap terlihat kuat dan bersyukur atas apa
yang masih sanggup ia lakukan. Tuhan maha baik dimata Putri, ia tetap bersyukur
segala-galanya.
Terkadang
dimalam hari, Putri selalu merindukan canda tawa bersama ibunya, ia rindu
ketika menyaksikan api unggun kecil bersama ibunya. Dan ia membuat api unggun
sendiri untuk melihat semua kenangan bersama ibunya. Api unggun yang cantik
itu, ia melihat ibunya yang sedang menyala dan tersenyum, hingga di penghujung
malam, ia tetap menyaksikan api unggun bersama dinginnya malam. Hingga api
unngun padam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar