Kamis, 27 Juli 2017

Api Unggun



Seorang anak, yang tinggal dipelosok desa. Hidup berdua dengan ibunya disebuah rumah berdinding bambu dan beratap daun yang sudah tua. Bahkan ketika langit menurunkan hujan. Terdapat bocoran atap yang terdapat disetiap sisi, mereka terpaksa tidur disudut rumah dalam keadaan yang begitu dingin dan penuh air. Mereka tak menyerah begitu saja, ada saja hal yang dilakukan ibu terhadap anaknya dalam melindungi putrinya yang kedinginan.
            Jauh dari saudara bahkan tak ada satupun saudaranya yang membantu hidup mereka. Mereka terus menjalani hidup seadanya. Hari-hari mereka hanya memunguti kayu bakar di hutan dan sayur kangkung di sawah untuk dijual dengan harga yang cukup untuk makan sehari sekali untuk berdua. Ibunya membawa keliling kedesa dan membawa kesestiap rumah. Memasuki gang-gang kecil untuk menuju rumah-rumah pembeli. Begitulah setiap hari yang ia lakukan. Dan tak pernah terlihat keluh kesahnya. Ia pantang menyerah, hanya untuk mendapatkan bekal makan sehari-hari saja.
 Mereka menanam beberapa batang ubi kayu untuk makanan sehari-hari mereka. Jika kangkung yang dijual tidak laku atau hanya separuh saja yang terjual, ibunya terpaksa mengambil depotong ubi didalam tanah yang masih utuh dan segar. Yang menjadi pengganti nasi untuk makan mereka. Dengan setumpuk kelapa parut yang bercampur sedikit garam dan gula, bahkan terkadang tidak ada gula dan garam, mereka menyantapnya dengan penuh syukur bersama ubi tersebut. Enak, memang terasa enak sekali di mulut mereka. Sementara anak itu tak pernah bersedih apa yang ia rasakan, ia selalu memberikan senyumnya kepada ibu, dengan umur yang masih tergolong kanak-kanak, ia tak mudah menangis dengan kondisi yang ia rasakan. Ia tetap bahagia selama matahari masih terlihat di dunia, ia bisa memberikan kebahagiaan dan senyum yang indah kepada ibu dan orang sekitarnya. Namun sayang, ia tak punya teman disekelilingnya, karena meraka hidup dan tinggal jauh dari rumah-rumah orang lain, tak jauh tak dekat dengan hutan. Ketika rembulan tak keluar dimalam hari, ibunya selalu menyalakan sebuah api unggun kecil, mereka duduk ditepi api berdua dan merasakan kehangatan yang begitu dalam. Seperti matahari yang selalu memberikan penerang jalan di siang hari dan menyengat dikulit.
Ada tawa dan cerita yang mereka ciptakan, meskipun hidup serba kekurangan, tetapi mereka mampu menciptakan hidup yang indah berdua bersama nikmat yang telah diberikan Tuhan. Selama mereka bisa makan dan tidak kelaparan, mereka tak lupa bersyukur.
Dia anak yang baik, lincah dan pintar meskipun ia tidak pernah bersekolah, tetapi ada ibu yang smenjadikan ia terlihat pintar. Matanya yang kecil dan bibir yang mungil, selalu terlukis senyum yang indah setiap hari, seperti ibunya. Rambut yang panjang terurai cantik dan lurus, semua karena urusan ibunya yang setia membuat anaknya secantik mungkin seperti anak-anak lainnya.  Anak itu begitu sayang kepada ibunya, sehingga ia selalu berada dalam pelukan ibunya, ia bersyukur masih ada ibunya yang menjadikan ia sebagai penerang didalam hidupnya. Menerangin segala kegelapan yang ada pada hidup mereka dan segala kegelapan menjadi terang menerang kita ibu dan anak saling melengkapi satu sama lain.
Mereka tetap bisa bertahan hidup meski harus berpuasa ketika tak ada bekal makanan yang harus mereka makan berdua. Lalu mereka tak pernah hidup dalam kemewahan, bahkan untuk sekedar menikmati malam dengan sebuah bola lampu listrik saja tak pernah mereka rasakan. Hebatnya mereka mampu berdiri dalam kekurangan tersebut.
 Mereka tak mau menjadi pengemis seperti orang lain, karena mereka merasa sanggup dengan tenaga yang di beri Tuhan. Kalau saja Tuhan tidak memberikan tenaga pada hambanya, pasti saja mereka sudah tiada, lalu untuk apa Tuhan memberika kekuatan? Itulah sebabnya mereka merasa bahwa Tuhan yang memberikan kekuatan itu untuk mencari kebahagian semata dan dengan segala yang bisa kita lakukan. Semua yang kita lakukan karena Tuhan yang telah memberikan tenaga yang kuat, bukan untuk mengeluh jika memiliki kekurangan, justru untuk menutupi segala kekurangan dengan kekuatan yang diberikan Tuhan. Itulah prinsip seorang Ibu dalam hidupnya, mengajari anaknya agar bisa menggunakan tenaga sebisa mungkin. Ialah ibu yang baik, yang telah di utuskan Tuhan untuk menjaga dan melindungi anaknya.
Setiap hari, anak itu melihat teman-teman sebayanya bermain dengan bahagia apa yang diberikan orangtuanya. Mereka bisa menggunakan alat-alat elektronik pemberian ibunya, sementara Putri tak pernah merasa iri atas apa yang ia lihat. Ia juga bisa bahagia setiap hari, bermain dengan monyet kesayangannya yang jadi pelindung, dan bernyanyi disela-sela hutan yang luas dan adem itu. ia bahkan merasa bahwa ia lebih bahagia bisa menikmati hidup yang berbeda dari anak-anak lain. Bermian dengan alam bukanlah hal yang tak ia sukai, justru itulah yang bisa membuat hari-hari semakin cerah dan cemerlang.
Ketika pagi telah tiba, matahari telah terbit, dan suara kokok ayam sudah terdengar ditelinga ibunya, ia selalu membangunkan Putri anaknya dari buaian mimpi indah itu. Bergegas menyiapkan alat-alat untuk memetik sayur, Putri terkadang juga membantu sebelum ibunya pergi membawa ke pasar dan kerumah orang-orang untuk menawarkan dagangannya. Meskipun banyak orang yang mengabaikannya, tak memerlukan sayur ibunya, tetapi ada satu atau dua orang yang berhati baik dan penuh iba langsung membelinya.
“berapa ini satu ikat bu?” Tanya seorang pelanggan yang baik hati dan suka menolong orang yang membutukan itu, dengan nada yang lemah lembut dan bersahabat ibu Putri langsung menjawab dengan nada yang lembut juga.
“seribu rupiah mbak, silahkan diambil mau yang mana?” dengan tawaran yang penuh harap agar dagangannya diambil dan tak ditinggalkan begitu saja.
Terkadang banyak mereka yang tak jadi mengambil dagangan ibu Putri, padahal harganya begitu murah bagi orang-orang yang hidupnya sempurna bahkan yang pas-pasan. Tetapi entah kenapa, ada saja yang tak jadi mengambilnya, seperti diacukan. Tetapi ini adalah sebuah ujian, ujian yang harus ibu Putri lalui agar ia bisa memberikan kebahagaian untuk anaknya yang sangat ia cintai itu. ia tak pernah kelelahan berjalan mengelilingi desa menuju kedesa lain, bahkan satu kecamatan ia lewati. Sungguh luar biasa ibunya yang hanya untuk kebahagiaan anaknya.
Suatu hari, langit sangat menggelap, matahari tertidurdan tak keluar sedikitpun, terdengar sebuah ledakan kecil dari langit dengan suara gemuruh, sebuah kilat dan petir yang datang bergantian. Putri sangat takut dan ia segera pulang kerumah sebelum hujan datang. Ketika ia tiba dirumah, langit terus mengeluarkan air dan menjatuhkan kebumi sehingga membasahi semua rumput yang kering itu. sudah lama air itu disimpan oleh awan setelah beberapa bulan kemarau panjang.
Hujan terus mengalir dari atas dengan sangat deras, sehingga membuat Putri takut, atap rumah mulai semakin terkoyak oleh sapaan angin beserta hujan. Ia tetap kuat seperti yang ibunya pesankan ketika apapun terjadi. Ia terus merasa sangat kedinginan, mencari sebuah selimut tebal yang sudah koyak dimakan binatang-binatang kecil. Putri mencoba membalut tubuhnya dengan erat, semua ia lakukan sendiri. Berdiri di didekat pintu yang tak terkena tetesan hujan. Ia terus menatap kelang-langit rumah, melihat setiap tetesan hujan yang ia lihat, menghitung tiap tetesan yang jatuh, semakin derasnya langit menangis semakin banyaknya tetsan hujan yang jatuh. Ia hanya tersenyum dengan nyanyian yang ia saksikan bersama tetesan hujan itu. ia tak terlihat sedih, hanya saja ia sangat kedinginan.
Hari sudah mulai menggelap sedikit demi sedikit, Putri masih mengikuti nyanyian tetesan hujan, ia menanti ibunya yang tak kunjung pulang. Perasaannya menjadi tak enak, ada gelisah dan bimbang, ingin keluar tetapi hujan terus melanda bumi. Petir dan kilat tak mau mengalah berkelahi, membuat ia semakin takut untuk melangkah keluar dari rumahnya.
“kenapa ibu belum pulang ?, padahal ini sudah mau menjelang malam”
Ia terus bertanya-tanya pada hatinya agar hatinya menjawab pertanyaannya. Tak ada yang bisa ia jawab dari pertanyaan Putri. Sehingga tumbuhlah sebuah tekat dan keberanian Putri untuk mencari ibunya keluar. Ia terus berjalan langkah demi langkah bersama nyanyian tetesan hujan. Meskipun langit sangat menggelap, ia tetap mampu berjalan. Berjalan bersama cahaya kilat dan petir yang sekali-kali menghampiri bumi.
Hujan terus membasahi tubuh Putri yang mungil itu, Putri tetap tersenyum meski keadaan yang begitu dingin. Bahkan sekalipun ia tak pernah menyalahkan hujan dan petir yang telah membuat ia basah dan takut. Ia terus berjalan mengkuti jejak ibunya pagi tadi melewati jalan yang sempit dan penuh air yang mengalir. Membuat kaki Putri menjadi penuh dengan lumur dan kotor. Ia hanya memakai sandal jepit yang sudah tua dan mulai menipis. Bahagia, ia terus melangkah dengan kebahagian tanpa menyadari keadaanya seperti apa, senang rasanya bisa menikmati dan bermain bersama hujan yang terus menyapa tubuhnya.
Banyak rintangan yang ia lalui ketika mencari ibunya, Putri harus melewati sebuah jembatan kayu kecil dan ia harus menyesuiakan diri agar bisa selamat melintasi jembatan kecil itu. ia harus melintasi bukit-bukit kecil. Semua ia lalui dengan hati senang. Terus bernyanyi sepanjang jalan bersama hujan itu, sehingga ia tak kesepian.
Di pertengahan jalan, Putri melihat sesuatu di tengah jalan yang sedang terbaring ikhlas. Ia semakin penasaran, dengan cepat ia melangkah menuju ke sesuatu yang ia lihat itu. ia semakin penasaran dengan yang ia lihat dengan matanya sendiri. Hingga akhirnya ia tiba ketempat itu. tenyata ia mengenal seseorang itu. itulah adalah ibunya. Dengan wajah yang indah dan tersenyum ibunya tertidur, “apakah benar ia tertidur?”. Tanya Putri dalam hati nya, ia seolah tak percaya itu ibunya. Sementara itu benar ibunya. Ia terus membolak-balik ibunya apa yang terjadi pada ibu. Ia semakin tak percaya kenapa ibu terlelap di atas jalan yang basah dan kotor itu. ia terus berteriak sekuat mungkin dengan nada yang begitu menyedihkan.
“ibuuuuuu, inikah ibu ?”
“ibu bangunnn !!!!”
“Putri disini bersama ibu”
Putri mulai menangis dengan begitu sesak. Ibunya tetap tak menjawab pertanyaan Putri. Putri terus memeluk ibunya, ia memeriksa apa ada luka atau mungkin ada yang membunuhnya. Ternyata ibunya dibunuh oleh petir tadi sore. Putri semakin kuat menangis bersama hujan yang semakin deras. Ia terus membawa ibu dengan sebauh dorongan kayu yang dibawa ibunya berjualan. Sekuat tenaga Putri membawa ibu ke rumah.
Malam semakin larut, hujan sudah mulai reda, langit mulai bercahay tak ada gelap lagi,t tapi tidak dengan Putri, ia semakin menangis tak ikhlas ibunya pergi tanpa pamit.
Keesokan harinya, Putri membawa ibu dan memanggil orang-orang untuk membawa kepemakaman. Untung saja masih ada yang peduli kali ini dalam pertolongan membawa ibunya ketempat istirahat terakhir. Wajah ibu terlihat ada senyuman yang ia berikan kepada Putri, agar putrid harus tetap tersenyum dimanapun dan apapun suasana yang terjadi.
Malam harinya, Putri hanya seorang diri, tak ada cahaya lagi dirumahnya, ia merindukan cahaya itu dari ibunya, ketika ibunya harus memasak ubi kayu untuk makan malam bersama. Putri sangat sedih, hidup seorang diri bukanlah hal untuk Putri tidak bangkit, justru ia semakin kuat seperti yang dikatakan ibunya dulu.
Profesi ibunya dulu digantikan oleh Putri, dimana Putri harus mencari kayu bakar dan mengambil kangkung sendiri dihutan dan sawah, untuk berjualan ke luar desa, hanya ada binatang-binatang kecil dihutan yang menemani hari-harinya.  Ia tetap terlihat kuat dan bersyukur atas apa yang masih sanggup ia lakukan. Tuhan maha baik dimata Putri, ia tetap bersyukur segala-galanya.
Terkadang dimalam hari, Putri selalu merindukan canda tawa bersama ibunya, ia rindu ketika menyaksikan api unggun kecil bersama ibunya. Dan ia membuat api unggun sendiri untuk melihat semua kenangan bersama ibunya. Api unggun yang cantik itu, ia melihat ibunya yang sedang menyala dan tersenyum, hingga di penghujung malam, ia tetap menyaksikan api unggun bersama dinginnya malam. Hingga api unngun padam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar