26 Juni 2025
embilan tahun telah berlalu sejak hari itu. Sejak langit menangis bersamaku, sejak dunia tiba-tiba terasa hampa tanpa sosok yang paling kukagumi—Ayah. Kini, aku duduk di ruang tamu rumah mungilku, dengan secangkir teh hangat dan suara riang anak kecil yang berlarian di karpet. Ya, aku sudah menjadi seorang ibu.
Aku sering bertanya dalam hati, "Ayah, bisakah engkau melihatku dari sana? Aku sudah sampai di titik ini."
Aku telah menyelesaikan kuliahku, meniti karier meski dengan jatuh bangun, membangun bisnis kecil yang perlahan tumbuh. Dan kini, aku hidup bersama lelaki yang mencintaiku dengan sepenuh jiwa, dan seorang anak yang setiap harinya membuatku merasa lengkap. Tuhan menjawab tangisku delapan tahun lalu dengan pelukan hangat dalam bentuk keluarga baru ini.
Tapi tetap saja, setiap kali aku menggendong anakku, aku merindukan pelukan Ayah. Setiap kali aku berhasil meraih sesuatu, aku berharap Ayah ada di barisan terdepan, tersenyum bangga seperti dulu saat aku tampil di depan kelas waktu SD. Tapi kehidupan mengajarkanku sesuatu yang penting: rindu yang tak terbalas bukan berarti cinta itu sirna. Justru ia hidup dalam diam, tumbuh dalam keikhlasan.
Sering kali, anakku bertanya, “Mama, kakek di mana?”
Aku hanya tersenyum dan menjawab, “Kakek sudah di surga, sayang. Tapi setiap hari, dia menitipkan pelukan lewat doamu.”
Ayah, aku tahu kau tak benar-benar pergi. Kau ada di dalam darahku, dalam caraku bersikap, dalam cara aku mendidik anakku, dan dalam kekuatan yang selalu kau wariskan. Kepergianmu dulu memang melukai, tapi hari ini, aku berdiri di atas luka itu—sebagai bukti bahwa aku kuat karena pernah dicintai oleh lelaki sepertimu.
Aku belajar, bahwa keikhlasan bukan berarti melupakan. Tapi merelakan, sembari terus membawa kenangan itu hidup dalam tindakan-tindakan kecil. Dalam senyumku, dalam syukurku, dan dalam setiap pencapaian yang akhirnya bisa kuraih.
Untuk semua orang yang pernah kehilangan: percayalah, mereka tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hidup dalam bagian terbaik diri kita.
"Ayah mungkin tak ada di sampingku saat aku menikah, atau saat anakku lahir,
tapi aku yakin doanya menyertai dari surga, dalam setiap langkah kecilku menuju bahagia."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar