Bagian 6: Korea dan Janji yang Ditepati
Suhu musim semi Seoul terasa sejuk saat Bella menuruni tangga pesawat. Matanya menatap gugusan bunga sakura yang menyambut di kejauhan. Dahulu, tempat ini hanyalah latar dalam drama yang membuatnya lupa waktu. Kini, ia datang bukan sebagai penggemar, tapi sebagai narasumber konferensi “Youth Resilience and Self-Discovery” yang dihadiri oleh pemuda-pemudi dari berbagai negara.
Namanya terpampang di banner besar: Bella Susanti – Youth Trainer & Author of “Antara Hobi dan Waktu”
Saat naik ke panggung konferensi, Bella sempat menoleh ke sudut kanan auditorium. Di sana duduk suaminya dan anak laki-laki kecil mereka—Arkan. Mata Arkan berbinar saat melihat ibunya berbicara dalam bahasa Inggris, membagikan kisah masa lalunya yang kelam dan bagaimana cinta dari orang tua, dosen wali, dan sahabat membawanya menemukan arah hidup.
> “Saya dulu tidak tahu bedanya antara istirahat dan menyerah,” ucap Bella, “Saya tidak gagal karena suka K-Drama, saya hanya lupa menempatkan prioritas. Tapi waktu, dan orang-orang yang sabar menunggu saya berubah, membuat saya mengerti: bahkan hobi bisa jadi kekuatan, kalau dikendalikan.”
Setelah sesi konferensi, Bella diajak mengisi workshop literasi digital untuk mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Korea. Ia memulai sesi itu dengan senyuman yang dulu pernah hilang dari wajahnya.
> “Dulu saya ke sini lewat layar 6 inci. Sekarang saya ke sini lewat perjalanan hidup 6 tahun yang penuh pelajaran.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar