Selasa, 06 Mei 2025

Catatan Anak Rantau

Pulang yang Kutunggu


Hampir setahun lamanya aku tak menjejakkan kaki di rumah. Terakhir kali pulang, aku masih belum tahu rasanya rindu itu bisa membuat dada terasa sesak. Tapi sekarang, saat pesawat mendarat dan udara kampung mulai terasa lewat kaca jendela, mataku memanas.


Bandara kecil di kota kelahiranku tak banyak berubah. Tapi entah kenapa, kali ini semua terasa lebih berarti.


"Anakku sayang..."

Suara itu—suara ibu—memecah keramaian begitu aku keluar dari pintu kedatangan.


Aku langsung melihatnya. Berdiri dengan senyum yang sama seperti terakhir kali kulihat. Tapi kali ini, ada garis-garis halus di wajahnya yang tak kusadari dulu.

Aku memeluknya. Lama. Seolah ingin menambal seluruh waktu yang hilang.



---


Rumah kami juga masih sama. Pagar kayu tua. Jendela dengan tirai putih. Bau khas rumah dan suara ayam tetangga di pagi hari. Tapi bagiku, semua terasa seperti tempat baru yang justru sangat kurindukan.


Ibu menyajikan sayur asam, tempe goreng, dan sambal kesukaanku.

"Aku masak ini dari pagi," katanya sambil menatapku.

Aku hanya tersenyum. Lidahku sibuk mengenang rasa-rasa yang tak tergantikan oleh restoran mana pun di kota rantau.


Di kamar kecilku, buku-buku lama masih tertata rapi. Poster masa SMA masih menempel di dinding. Rasanya seperti masuk ke dalam pelukan masa lalu.



---


Malamnya, aku tidur lebih nyenyak daripada selama sepuluh bulan di kost.

Tak ada suara kendaraan. Tak ada lampu jalan. Hanya suara jangkrik, kipas angin, dan rasa hangat yang memenuhi dada.


Aku sadar, pulang bukan hanya soal raga. Tapi soal rasa—rasa dimiliki, dicintai, dan diterima, apa pun keadaannya.


Dan aku tahu, meski suatu hari nanti aku akan kembali ke kota, rumah akan selalu menunggu.


Selalu.



---


> Tak ada tempat seindah rumah, dan tak ada pelukan sehangat ibu yang menunggu kita pulang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar