“Antara Hobi dan Waktu (Bagian 3): Kembali Sebagai Cahaya”
Tiga tahun setelah kelulusannya, Bella kembali menginjakkan kaki di kampus tempat ia dulu nyaris tersesat. Gedung-gedung yang dulu terasa asing, kini menyambutnya dengan hangat. Namun kali ini, ia bukan lagi seorang mahasiswa yang datang terlambat, tapi sebagai alumni undangan dalam seminar bertajuk “Mahasiswa Hari Ini, Pemimpin Masa Depan.”
Di aula utama, ratusan mahasiswa baru duduk rapi. Mereka belum mengenal Bella, namun seketika hening ketika moderator memperkenalkannya:
> “Hari ini kita kedatangan seorang alumni yang kisahnya sangat layak untuk didengar. Dulu dikenal sebagai mahasiswa yang sering absen dan tenggelam dalam dunia hiburan, namun kini menjadi penulis, ibu, dan pendamping komunitas literasi. Mari kita sambut Kak Bella Susanti!”
Bella tersenyum, menatap wajah-wajah muda yang penuh harap, sama seperti dirinya dahulu. Ia mengambil mikrofon dan berkata:
> “Dulu, aku duduk seperti kalian—malas, apatis, dan merasa waktu tak berharga. Tapi titik balik bisa datang kapan saja, asal kita mau membuka hati. Kuncinya ada pada satu hal: kesadaran.”
Ia menceritakan kisah lamanya tanpa malu. Tentang hari-hari terbuang menonton drama, tentang dosen wali yang mengguncang nuraninya, dan tentang bagaimana waktu yang dulu ia sia-siakan kini menjadi amunisi untuk bergerak.
> “Jangan tunggu waktu menegur kalian. Tegurlah diri kalian sendiri. Karena ilmu yang kalian dapat hari ini bukan sekadar untuk nilai IPK, tapi untuk kehidupan yang lebih bermakna.”
Seminar itu menjadi viral di media sosial kampus. Banyak mahasiswa yang kemudian menghubunginya, mengucap terima kasih, meminta bimbingan, bahkan menjadikannya mentor skripsi dan karier.
Bella bukan hanya berubah. Ia kini menjadi cahaya. Sosok yang dulu menutup diri, kini menjadi pembuka jalan bagi banyak orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar