Bagian 5: Persembahan untuk Waktu dan Guru Kehidupan
Ia berdiri gugup di hadapan ruang rapat kampus tempat dulu ia jarang datang. Kali ini bukan untuk kuliah, melainkan untuk memberi presentasi di hadapan dosen-dosen yang pernah mempertanyakan kehadirannya.
Wajah-wajah itu masih sama. Termasuk satu yang paling membuat hatinya hangat—dosen wali yang dahulu menghapus air matanya dengan tisu, dan mengusap hatinya dengan kasih.
> “Bu…” suara Bella bergetar saat ia melangkah ke hadapan dosen wali, “Saya tak datang membawa nilai IPK terbaik, tapi saya datang membawa bukti bahwa teguran Ibu bukan hanya menyelamatkan semester saya, tapi hidup saya.”
Ia menyerahkan buku itu. Dosen wali menerimanya dengan senyum yang tak pernah berubah, lalu memeluk Bella—erat, hangat, dan tulus.
Di antara para dosen, Chintya juga hadir. Kini sahabat itu adalah bagian dari tim "Waktu Berarti", menjadi fasilitator program pelatihan mahasiswa baru di berbagai daerah. Mereka berdua berdiri di panggung kecil, memperkenalkan modul pembinaan karakter mahasiswa, yang disusun berdasarkan pengalaman nyata mereka.
Seorang rektor yang hadir dalam forum itu lalu berkata:
> “Inilah pendidikan yang sesungguhnya. Ketika masa lalu tidak mengubur masa depan, tetapi menjadi bahan bakar untuk perubahan.
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar