Suasana subuh 26 Mei hari itu terasa berbeda. Langit tampak murung, seolah tak sanggup menahan kesedihannya. Rumput kehilangan semangatnya menyambut pagi. Matahari enggan bersinar, awan pun tampak kelabu. Bahkan langit mulai menghitam, seakan hendak menangis melihat duka dunia yang tengah berlangsung. Burung-burung kecil di atas awan menjadi saksi bisu, menatap dunia dengan diam.
Sebuah kabar mengguncang—begitu menyayat, seolah tak nyata. Dunia seperti tak ingin menerima takdir yang akhirnya benar-benar menjadi kenyataan. Sebuah kenyataan yang membawa duka terdalam bagiku.
“Ayahku, benarkah berita ini?” bisikku dalam hati. Dan seakan dijawab oleh suara yang tak terlihat, “Benar, wahai anakku. Ayah akan pergi. Jangan bersedih, Ayah akan melihatmu dari surga.”
Aku seperti bermimpi. HP-ku tiba-tiba berdering beberapa kali—tidak biasa terjadi sepagi itu. Kakakku mengangkat telepon dengan wajah berlinang air mata. Tangisnya menghantam keheningan kamar kami. Ia memegang tanganku, memelukku erat, dan membisikkan, “Ayah, Dik... sudah pergi.”
Aku terdiam. Aku berharap ini hanya mimpi. Tapi air mataku mulai jatuh, menandai bahwa mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan.
“Tuhan, begitu cepat Engkau mengambil Ayah dari sisi kami. Tak bisakah Kau menunggu hingga aku sukses?”
---
Dengan tergesa-gesa dan isak tangis yang masih menyesak di dada, aku bersiap pulang ke rumah yang berjarak sekitar 14 jam perjalanan. Kakakku segera mencari teman untuk menemani perjalanan, menyiapkan motor seadanya, tanpa persiapan apa pun. Aku hanya mengenakan jilbab kurung hitam, baju panjang merah, dan rok hitam—tanpa jaket.
Dua motor melaju menembus gelap subuh. Di satu jam pertama, kami singgah di mushalla kecil di pinggir jalan pegunungan. Kami mengambil wudhu dan menunaikan salat subuh. Setelah itu, aku kembali duduk di belakang kakakku, yang mengendarai motor dengan perlahan tapi pasti. Doa-doa lirih terus kupanjatkan.
Jalanan lengang, subuh masih pekat. Motor melintasi lubang kecil dan sedikit menghentak. Aku tersadar kembali—batin dan fisikku sama-sama terluka. Kami lupa sarapan, hanya sempat meneguk air mineral. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Panas matahari tak terasa—seolah rasa kehilangan ini menelan semua rasa.
Luar biasa. Entah bagaimana, kami tiba jauh lebih cepat dari waktu normal. Di depan rumah, kain merah terbentang, tenda telah berdiri, motor dan mobil memenuhi sisi jalan. Suasana hening meski ramai, seperti pesta tanpa musik dan tawa. Orang-orang menyambut kami dengan bisu. Kakiku tak sanggup melangkah turun dari motor. Saudara-saudara memapahku masuk.
Di dalam rumah, seorang lelaki yang begitu kukenal kini terbaring kaku di tempat pemandian jenazah. Wajahnya tenang, bahkan tersenyum. Seolah ia ingin memberi kode agar kami tetap tabah dan mengikhlaskan kepergiannya.
Bersama ibu dan saudara, aku menyaksikan prosesi pemandian. Kami kemudian membawanya ke sebuah masjid kecil, menshalatkannya, dan mengantarnya ke rumah terakhirnya. Tanah pemakaman menyambut kami dengan embun pagi yang masih tersisa. Rumput tumbuh subur, seolah turut menyambut Ayah.
“Ayah, semoga engkau bahagia bersama sahabat-sahabat baru di sisi-Nya.”
Setelah pemakaman, kami pulang berjalan kaki. Sandal jepit menjadi saksi bisu langkah-langkahku yang berat. Perutku kosong sejak pagi, jam dinding di rumah seakan memanggilku untuk beristirahat dan mengisi energi.
---
Setahun berlalu. Di suatu malam, aku termenung di sudut kamar kecilku. Foto-foto keluarga terpajang rapi di dinding. Wajah pahlawanku tak bisa lepas dari pelupuk mata. Sosok Ayah, dengan sifatnya yang hangat dan kuat, terus hidup dalam kenangan.
Setiap akhir ibadahku, tak pernah lupa kusematkan doa untuknya—agar Ayah tenang di sana. Aku berjanji akan menunaikan semua amanah dan pesan yang pernah ia titipkan, agar ia bahagia melihatku dari surga.
Rumah ini menyimpan banyak cerita. Tawa dan tangis, perjuangan dan harapan. Ayah sering hadir dalam mimpi-mimpiku. Dan meskipun aku telah mengikhlaskan, rinduku tetap dalam.
Dari keikhlasan inilah, aku belajar makna kesabaran yang sebenarnya.
---
"Relakanlah jiwa yang telah pergi,
tak ada yang lebih indah
daripada keikhlasan di dalam hati."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar